Aksi 3M Plus Pun Tak Cukup Ampuh Memberantas DBD

Memberantas DBD
Ilustrasi (Foto: IST)

Release Insider | AKSI 3M Plus yakni menguras, menutup, dan mengubur sampah, yang kemudian ditambah dengan menggunakan larvasida, kelambu, kawat kasa, dan obat anti nyamuk, ternyata tidak cukup ampuh memberantas DBD (demam berdarah dengue). Mau tahu mengapa?

Disadari atau tidak, upaya memberantas DBD melalui gerakan 3M Plus, seringkali tidak berhasil. Sebab, gerakan 3M Plus tidak memutus perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti, sebagai vektor penyakit DBD.

Bayangkan saja, dalam sekali bertelur, seekor nyamuk Aedes Aegypti mampu bertahan dua minggu hingga empat bulan jika tidak berada di media air. Jadi, meski Anda sudah mengubur sampah-sampah sehingga tak ada lagi genangan air, nyamuk masih bisa bertahan hidup.

Selain itu, nyamuk Aedes Aegypti ini cenderung memilih dalam rumah sebagai habitat utama mereka. Nah, saat dilakukan pengasapan atau fogging, seringkali hanya dilakukan di bagian luar rumah atau got. Padahal, area di dalam rumah lah yang paling penting.

Menyadari hal tersebut, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) menawarkan salah satu alternatif baru untuk memberantas DBD. Cara ini dipercaya lebih efektif, murah, dan tidak menyebabkan polusi.

Adalah Teknik Serangga Mandul. Yaitu suatu teknik yang melakukan pada pemandulan nyamuk jantan. Caranya, dengan melakukan radiasi pada pupa jantan, sehingga tak mampu lagi membuahi nyamuk betina.

”Nyamuk jantan yang dimandulkan masih bisa kawin, tapi tidak terjadi reproduksi. Telur-telur yang dihasilkan tidak akan menetas. Jika dilakukan hingga tiga kali pelepasan, maka populasi nyamuk akan berkurang. Pada bulan ketujuh dipastikan tidak muncul kasus DBD baru,” tutur Kepala Peneliti Laboratorium Entomology Batan, Ali Rahayu.

Ia menjelaskan, proses pemandulan nyamuk Aedes Aegypti jantan, tidaklah lama. Dengan menggunakan fasilitas radiasi sinar gamma Cobalt-60 melalui Irradiator tipe kecil yang berkapasitas 10.000 currie, hanya dibutuhkan waktu 37 detik untuk meradiasi sekitar 300 nyamuk jantan.

Untuk melakukan radiasi pada jumlah yang lebih banyak, misalnya di atas 3.000 nyamuk jantan, maka bisa menggunakan Irradiator Gamma tipe 2 yang berkapasitas 100 ribu Currie. Waktu radiasi yang dibutuhkan hanya sekitar enam menit dengan jarak 14 cm dari Source Cage, yang berisi 28 tabung Cobalt-60.

”Untuk proses pemandulan ini, hanya dibutuhkan kapasitas 70 grey. Jauh lebih kecil dibandingkan untuk pen-sterilan makanan yang membutuhkan 10 ribu grey untuk sekali pemaparan sinar gamma,” papar Ali.

Teknisi Laboratorium Entomology Batan, Dodon Sutardji, menjelaskan proses radiasi dilakukan pada pupa nyamuk yang berumur delapan hari. Saat itu, pupa jantan dan betina sudah bisa dipisahkan.

”Telur nyamuk pertama kali akan berubah menjadi larva dalam waktu satu minggu. Setelah itu berubah menjadi kepompong, dan dua hari kemudian sudah menjadi pupa. Pupa ini akan kita pisahkan dengan menggunakan mesin Larva Pupa Separation, yang memiliki tingkat keakuratan 98 persen. Kepompong jantan itu lebih kecil dibandingkan kepompong betina. Walau ada beberapa kepompong betina yang kurang asupan makanan, ukurannya bisa sama kecilnya dengan kepompong jantan,” kata Dodon.

Proses penyebaran nyamuk jantan mandul ini, dilakukan di dalam rumah, dengan jumlah 50 nyamuk jantan untuk satu rumah. Pelepasan nyamuk jantan ini bertujuan untuk menarik perhatian nyamuk betina.

”Saat penarikan nyamuk betina ini, jumlah nyamuk di rumah akan meningkat secara signifikan. Proses perkembangbiakan berlangsung secara normal. Hanya, saat nyamuk betina bertelur, maka telur-telur itu tidak akan menetas,” ujarnya menambahkan.

Dodon menerangkan, nyamuk betina memiliki masa waktu hidup sekitar dua bulan, sedangkan nyamuk jantan sekitar 1,5 bulan. Jika tidak ada telur yang menetas maka populasi nyamuk akan menurun.

”Otomatis nyamuk pembawa virus pun tidak bisa berkembang lagi. Proses pemandulan dengan pelepasan nyamuk jantan mandul ini bisa dilakukan sesuai dengan permintaan daerah terkait. Tapi sesuai dengan hasil uji coba di daerah Salatiga, Semarang dan Bukit Tinggi, pada bulan ketujuh, sudah tidak ada kasus baru penyakit DBD,” kata Dodon.

Perlu diketahui, yang menggigit manusia adalah nyamuk betina. Nyamuk jantan hanya berperan sebagai penyambung lingkaran reproduksi, dan sama sekali tidak mengigit manusia.

Penyakit DBD timbul akibat dari proses transophalia yaitu penurunan virus dari parental kepada F1 (generasi selanjutnya). Jadi, telur nyamuk yang dihasilkan sudah carrier DBD.

Tepis juga anggapan DBD dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk pada pasien dan menggigit orang lain. Sebab, virus tersebut juga membutuhkan waktu untuk berinkubasi.

”Virus aktifnya akan dibawa pada anak nyamuk atau F1 dan F2-nya,” jelas Ali. (aan)