Transformasi Lahan, Area Pertanian di Karawang Kian Menipis

area pertanian karawang

PERUBAHAN alih fungsi lahan yang tak terkendali, mengakibatkan area pertanian di Karawang kian menipis. Perlahan, para petani yang ’’galau’’ dengan perubahan ini seolah tersingkir dari tanahnya sendiri. Sebutan lumbung padi nasional yang pernah disematkan pada Karawang pun, sepertinya hanya tinggal cerita.

Padahal, dalam rencana pembangunan jangka panjang (RPJP) 2005-2025, Karawang masih berambisi menjadi daerah lumbung padi kedua terbesar di Indonesia. Ya, pemerintah daerah setempat memang mengusung visi ’’Karawang sejahtera berbasis pertanian dan industri’’. Akan tetapi, meski ada embel-embel industri di situ, Karawang seolah ingin mempertahankan diri sebagai daerah pertanian.

Namun, yang terjadi saat ini justru kebalikannya. Alih fungsi lahan menjadi daerah industri justru terkesan lebih ’’jor-joran’’ sehingga area pertanian kian menyempit. Apalagi sektor industri memang jauh lebih ’’seksi’’ untuk digeluti. Kenapa? Karena faktor risikonya lebih kecil ketimbang sektor pertanian.

Bayangkan saja, sudah beberapa tahun terakhir ini, pemasukan daerah dari sektor pertanian, semakin menurun. Gagal panen pun sudah menjadi kisah suram yang sering berulang. Hal ini tak lepas dari faktor anomali cuaca dan bencana alam.

Tak heran jika akhirnya Karawang bertransformasi menjadi kawasan industri. Terlebih, dari saat ini 43 persen investasi di Jawa Barat ada di Karawang.

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan Kehutanan dan Peternakan Kabupaten Karawang, Kadarisman, juga menegaskan bahwa tidak memungkinkan dilakukan pencetakan sawah baru di daerah itu karena lahannya memang tidak tersedia.

’’Dari tahun ke tahun terjadi alih fungsi area pertanian ke bidang lain,’’ kata Kadarisman di Karawang, Minggu (12/6).

Menurutnya, daerah yang memungkinkan untuk melakukan pencetakan sawah baru berlokasi di sekitar Jawa Barat bagian selatan. Pencetakan sawah baru itu sendiri merupakan bagian dari upaya pemerintah pusat dalam mengantisipasi laju alih fungsi area pertanian ke nonpertanian.

Akan tetapi, menurut Kadarisman, tidak semua daerah bisa melakukan pencetakan sawah baru. Salah satunya adalah Karawang.

Karena tidak memungkinkan dilakukan pencetakan sawah baru, lanjutnya, perlu dilakukan antisipasi dalam alih fungsi lahan ke bidang lain, serta upaya intensifikasi sawah yang ada. Intensifikasi sawah dilakukan agar terjadi peningkatan produksi padi. Dengan demikian, meski terjadi alih fungsi area pertanian, tidak akan terlalu berdampak signifikan terhadap penurunan produksi padi.

’’Intensifikasi sawah dilakukan dengan melakukan penggunaan teknologi, penguatan modal, dan lain-lain,’’ ujarnya.

Sementara itu, catatan Dinas Pertanian Perkebunan Kehutanan dan Peternakan Karawang, alih fungsi lahan ke nonpertanian di derah tersebut mencapai sekitar 150 hektare per tahun umumnya untuk pembangunan perumahan, permukiman, pabrik, infrastruktur, dan lain-lain.

Total areal persawahan di Karawang mencapai 98,615 hektare. Puluhan ribu hektare sawah itu hanya dilindungi dengan Perda Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dari alih fungsi area pertanian ke nonpertanian, yakni dengan memperketat izin alih fungsi lahan. Sedangkan untuk Perda tentang Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, hingga kini Karawang belum memilikinya.

Kebutuhan Tak Seimbang
Transformasi Karawang sebagai daerah industri, tak hanya menyebabkan area pertanian kian tipis, tapi juga memunculkan persoalan lain. Yang paling terasa, tentu saja Karawang akan semakin ’’ngos-ngosan’’ dalam memenuhi suplai beras nasional.

Dari data litbang Kementerian Pertanian pada 2013, rata-rata konsumsi beras di Indonesia mencapai 130 kilogram per/kapita per/tahun. Jelas angka ini tidak seimbang dengan produktivitas beras nasional. Sebab, lahan pertanian Indonesia yang hanya tersisa tinggal 13,5 juta hektare dengan hasil panen rata-rata sebanyak 6 ton per hektare.

Impor beras pun menjadi langkah yang diambil pemerintah untuk memenuhi kebutuhan Indonesia yang besar terhadap beras. Kebijakan ini tentu saja akan menghambat program ketahanan pangan yang direncanakan pemerintah.

Hingga 2013, luas sawah di Karawang adalah sebesar 97.529 hektare. Akan tetapi, dalam lima tahun terakhir, sebanyak 15.000 hingga 17.000 hektare lahan tersebut beralih fungsi. Jika dibiarkan terus, area pertanian di Karawang akan habis dalam waktu 30 tahun ke depan.

Lalu, bagaimana pula nasib masyarakat setempat yang mayoritas adalah petani? Mau tak mau, para petani tersebut harus beradaptasi dengan sektor lain (baca: industri) yang mungkin baru pertama kali mereka sentuh. Bukan hal yang mudah, bukan? Dan tentu saja, perlu waktu. (inx)