Benarkah Spending Money Turis Tiongkok Lebih Besar?

turis tiongkok

Sejak pemerintah membebaskan visa kunjungan (BVK) bagi turis Tiongkok, para wisatawan bermata sipit ini pun lantas berbondong-bondong masuk Indonesia. Hampir di setiap destinasi, turis Tiongkok tampak mendominasi, termasuk di Bali.

Akan tetapi, benarkah para turis Tiongkok ini akan membelanjakan uangnya lebih banyak dari wisatawan asal Eropa atau negara lainnya? Pertanyaan ini terlontar dari pikiran saya begitu saja, mengingat –maaf—karakter mereka yang ’’pelit’’ dan seolah ’’tidak mau rugi’’.

Dari pengamatan saya (wartawan Release Insider) di kawasan Badung, Bali, beberapa waktu lalu. Di salh satu hotel tempat saya menginap, 80 persennya dihuni oleh tetamu asal China. Hal menarik pun terjadi, berawal di meja makan saat sarapan pagi tiba.

Para wisatawan asal Tiongkok ini sudah memadati area breakfast saat saya hendak sarapan. Mereka cukup berisik karena senang berbicara dengan volume tinggi.

Bagaimana dengan table manner mereka? Hmmm… jangan ditanya! Selain berisik, cara mereka makan boleh dibilang sangat ’’membabibuta’’. Kenapa saya bilang begitu?

Yang namanya sarapan, saya terbiasa makan ’’asal ganjel’’ untuk mengisi perut. Namun, begitu melihat cara mereka mengambil makanan, cukup membuat saya terbengong-bengong. Tak peduli turis pria, wanita, dewasa, maupun remaja -anak-anak tidak saya masukkan kategori karena masih tahap wajar—rata-rata mengambil makanan dalam porsi yang luar biasa jumbo.

Dalam satu piring, mereka bisa meletakkan nasi putih yang dicampur beraneka ragam lauk hingga membumbung. Itu baru satu piring. Belum piring-piring lainnya. Ya, untuk sarapan pagi, mereka bisa makan berpiring-piring makanan berat. Belum ditambah kue-kue dan buah-buahan.

Saat di meja makan, mereka bisa melahap nasi putih langsung dengan buah, bahkan kue. Takjub saya melihatnya. Tepat di samping saya, seorang pasangan turis melakukan hal yang sama. Mereka seolah ’’berkompetisi’’ siapa yang bisa makan lebih banyak. Oh my God, ini sarapan lho!

Hal menarik lainnya adalah ketika selesai makan, bukan berarti mereka pergi begitu saja. Masing-masing sudah menyiapkan kantong kresek dan kembali mengambil makanan untuk dibawa pergi. Kalau hanya kue-kue atau roti, mungkin saya masih bisa memaklumi. Tapi, yang mereka bekal cenderung sama dengan yang dimakan sebelumnya. Saya hanya bisa geleng-geleng kepala.

Ketakjuban saya tak berhenti sampai sana. Sebab, begitu selesai ’’berbungkus’’ mereka meninggalkan meja dengan kondisi yang kotor dan berantakan. Walah…

Soal cara berpakaian pun, mereka cenderung cuek dan –mungkin—menganggap hotel ini sebagai rumah sendiri. Saya lihat beberapa wisatawan pria yang hanya mengenakan kaos singlet, sedangkan yang perempuan masih mengenakan baju tidur.

Tergelitik soal ini, saya dekati seorang pelayan restoran di hotel tersebut. Saya ajak dia berbincang-bincang setelah ’’lalu lintas’’ sarapan agak reda. Sebab, sebelumnya, saya lihat dia sangat sibuk mondar-mandir membawakan piring kotor.

Sang pramusaji, sebut saja Ayu, semula agak sungkan terbuka. Namun, akhirnya ia mau membeberkan tingkah pola turis Tiongkok ini. Ia membenarkan, para turis Tiongkok paling senang mengambil makanan dalam jumlah banyak.

’’Mau badannya kecil atau besar, pasti mengambil makanan dalam porsi besar. Bukan hanya satu jenis, namun seluruh hidangan yang tersedia akan diambil. Mereka juga akan membungkus makanan untuk dibawa pergi,’’ katanya.

Untuk meminimalisasi hal itu, pihak hotel sengaja mencantumkan pengumuman dalam bahasa Mandarin, yang artinya Ambilah Makanan Secukupnya. Pengumunan itu ditempatkan hampir di seluruh lokasi makanan.

Pengumuman hanya tinggal pengumuman. Mereka tidak menggubrisnya. Meski tidak semua turis membungkus makanan di kresek, namun kebiasaan itu tetap ada.

’’Iya memang suka bungkus. Kalau sekarang sudah mendingan, nggak seperti sebelumnya banyak yang bungkus. Ini karena kami tegur langsung kalau terpergok. Karena mereka tidak bisa bahasa Inggris, kami pakai bahasa isyarat, kami bilang no… no… no,” tutur Ayu.

Hal lain dituturkan pelayan yang bertugas membersihkan meja. Menurutnya, turis Tiongkok kalau makan pasti mejanya kotor karena makanannya banyak berserakan di meja. ’’Saya harap sih, cukup piringnya yang kotor, jangan mejanya,’’ ujarnya sambil tersenyum kecut.

Kebiasaan turis Tiongkok ini‎ dibenarkan Asisten Deputi Pengembangan SDM Pariwisata Kementerian Pariwisata, Wisnu Tanujaya.

’’Mereka memang suka bungkus makanan di kresek. Makanya kalau ambil makanan pasti banyak. Tapi, di satu sisi uang yang dibawa turis Tiongkok dan dibelanjakan mereka di Bali cukup banyak. Jadi kualitas turis Tiongkok di Bali cukup tinggi. Mereka tidak terlalu senang melihat pariwisatanya. Mereka lebih tertarik berbelanja dan ini yang diharapkan dari wisman,” ujarnya.

Benarkah demikian?

Saya coba menelusuri jawabannya dari sumber yang lain. Saya tanya beberapa pedagang di sekitaran Badung. Lokasi pertama yang saya datangi adalah Mini Market yang buka 24 jam.

Pelayan kasirnya bilang, turis Tiongkok suka datang dengan cara bergerombol. Tidak hanya satu gerombol, tapi beberapa. Apa saja yang mereka belanjakan?

’’Waduh, paling mereka hanya beli minuman dan snack. Itupun paling banyak Rp15 ribu. Mereka menyodorkan uang Rp100.000. Jadi, intinya mereka hanya ingin menukarkan uang saja,’’ katanya.

Dari sana saya beranjak ke gerai-gerai suvenir khas Bali mulai dari Krisna dan Joger. Sambil ngobrol ringan bersama para pelayannya, saya dapatkan informasi bahwa kebanyakan turis Tongkok hanya beli barang-barang yang murah tapi banyak.

’’Ada sih turis China yang beli barang mahal. Tapi gak banyak. Beda sama turis Eropa, mereka gak pelit berbelanja. Bahkan, turis dari Malaysia dan Singapura saja masih belanja jauh lebih banyak,’’ ujar pelayan toko tadi. (inx)