Berkat Varietas Sorgum, Indonesia Jadi Lead Country Penelitian Pangan

Varietas Sorgum

INTERNATIONAL Atomis Energy Agency (IAEA) menunjuk Indonesia sebagai lead country coordinator untuk penelitian pangan di kawasan regional Asia. Penunjukan ini tak lepas dari keberhasilan Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang melakukan penelitian di bidang pangan, khususnya pada varietas Sorgum.

Penelitian terhadap varietas sorgum dimulai pada 1996. Materi genetiknya masih berasal dari China dan Pakistan. Seleksi dilakukan untuk mendapatkan galur dengan sifat agronomi dan kualitas yang sesuai dengan kontur alam dan cuaca di Indonesia.

Pemilihan varietas Sorgum menjadi objek penelitian adalah karena memiliki banyak manfaat. Biji sorgum mengandung karbohidrat, lemak dan protein tinggi untuk bahan pangan. Batang dan dan daunnya untuk pakan ternak. Batang yang mengandung cairan gula cukup tinggi dapat dimanfaatkan untuk pembuatan gula cair, sirup atau diproses lanjut menjadi bioetanol.

’’Pemilihan galur yang sesuai, diperuntukkan bagi lahan marjinal yang ada di Indonesia dan kita melakukan pemilihan sesuai dengan masalah yang ada di lahan terkait, misal penelitian bagi varietas tahan asam untuk daerah Sumatera Barat dan Lampung,” ungkap Prof. Suranto, Peneliti Tanaman Pangan Batan sekaligus Ketua Pelaksana IAEA/RAS Regional Training Course on the Applications of In-vitro Techniques in Mutation Breeding of Bioenergy Crops, di Jakarta, Senin (23/5).

Pada 2013, BATAN bekerja sama dengan Kementerian Pertanian meluncurkan varietas unggul sorgum yang diberi nama Pahat. Lalu pada 2014, meluncurkan varietas Samurai 1 dan Samurai 2.

’’Varietas Pahat memiliki keunggulan serat, Samurai 1 memiliki kadar gula tinggi dan Samurai 2 memiliki ciri berdaun banyak, yang masing-masing sesuai dengan peruntukkan daerah tertentu yang ada di Indonesia,” kata Prof Suranto menjabarkan keunggulan masing-masing varietas.

Penghargaan atas keberhasilan BATAN dalam penelitian sorgum ini diapresiasi oleh IAEA dengan menjadikan Indonesia sebagai LCC, atas program pengembangan energi baru dan terbarukan untuk mendukung ketahanan energi nasional.

Dalam acara Training Course yang menghadirkan Prof Rajbir Sangwan, Pakar Pemuliaan Tanaman Bioenergi IAEA, ada 14 negara ikut serta. Yaitu Bangladesh, Kamboja, China, India, Korea Selatan, Korea Utara, Malaysia Mongolia, Myanmar, Pakistan, Philipina, Sri Langka, dan Vietnam. Diharapkan acara ini bukan hanya sebagai ajang untuk melatih para peneliti muda tapi juga untuk ajang bertukar informasi dalam hal penggunaan teknik mutasi radiasi.

’’Saya sangat bangga dengan pencapaian yang dilakukan oleh para peneliti BATAN terkait pemanfaatan tanaman dalam menghasilkan bioenergi. Saya percaya bahwa hal ini akan menjadi kecenderungan positif dalam perkembangan ke depannya,” ungkap Prof Rajbir.

Kepala BATAN Djarot Sulistio Wisnubroto, menyatakan harus ada kerja sama dengan kementerian atau lembaga lainnya untuk mengembangkan penelitian ini agar menjadi sesuatu yang bernilai ekonomis bagi Indonesia.

’’Kami dari BATAN hanya bisa melemparkan hasil penelitian yang terbaik. Untuk selanjutnya, membutuhkan kerja sama dengan pemerintah atau pihak swasta guna mewujudkan hasil penelitian itu menjadi bernilai ekonomis. Sekaligus untuk menunjukkan bahwa pengembangan potensi nuklir bisa membantu ketahanan pangan,” kata Djarot. (aan)