Indonesia Butuh Pelaku Jasa Konstruksi yang Kompeten

Pembangunan Infrastruktur
Ilustrasi (Foto: IST)

Release Insider | INDONESIA membutuhkan pelaku jasa konstruksi yang kompeten. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan industri konstruksi sebagai fokus pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di seluruh wilayah Tanah Air.

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro pernah menyampaikan bahwa sektor konstruksi diharapkan tumbuh sebesar 8,1 persen pada 2017 mendatang, seiring dengan peningkatan proyek-proyek infrastruktur pemerintah dan swasta.

Menurut Bambang, mengingat sektor konstruksi lebih banyak dikontribusikan oleh swasta, maka untuk mendorongnya bergerak lebih tinggi maka pemerintah juga akan mengeluarkan berbagai kebijakan stimulus. Seperti suku bunga yang tetap dijaga rendah dan stabil, nilai tukar yang dijaga stabil, inflasi yang terjaga, serta kemudahan perizinan dan ketersediaan barang modal, serta bahan baku proyek-proyek konstruksi.

Salah satu dampak utama dari pertumbuhan sektor konstruksi adalah meningkatnya permintaan pekerjaan pada badan usaha jasa konstruksi, dan kebutuhan tenaga kerja konstruksi.

Direktur Jenderal Bina Konstruksi, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Yusid Toyib, mengatakan, Indonesia menghadapi tantangan yang besar dalam memenuhi kebutuhan usaha jasa konstruksi dan ketersediaan tenaga kerja terlatih dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur.

’’Terlebih dengan dibukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), para pengusaha jasa konstruksi dan tenaga kerja lokal harus mampu bersaing dalam hal kualitas pekerjaan, baik di Indonesia maupun di luar negeri,” ujarnya.

Dari data Biro Pusat Statistik menunjukkan bahwa pada Kuartal I-2015, sektor konstruksi hanya menyerap tenaga kerja sebanyak 7,72 juta orang. Angka yang sangat minim dibandingkan dengan sektor industri (16,38 juta orang), sektor perdagangan (26,65 juta orang) atau sektor pertanian (40,12 juta orang).

Sektor konstruksi kurang peminat disebabkan beberapa hal. Antara lain, tenaga kerja yang bergabung dalam konstruksi adalah tenaga terampil, profesional, kompeten, dan berkualitas. Tenaga kerja konstruksi dituntut empat hal tersebut karen tuntutan kerumitan serta kompleksitas dalam mengerjakan kepatuhan atas kebutuhan dan persyaratan dalam konstruksi.

Kerumitan di konstruksi disebabkan karena tenaga kerja yang bergabung harus menyadari atas penjadwalan, keteknisan, prosedur-prosedur yang berlaku secara umum serta spesifik di konstruksi. Kerumitan tersebut ditambah pula dengan achievement serta compliance terhadap pemenuhan quality serta HSE (Health, Safety, and Environment), sebab konstruksi mempunyai risk cukup besar bagi keselamatan dan kesehatan manusia serta lingkungan di sekitarnya.

Sementara, data dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN) 2016 tentang Potret Tenaga Kerja Konstruksi Indonesia Kuartal I-2016, menunjukkan bahwa jumlah tenaga kerja konstruksi bersertifikasi hanya sebesar 500.566 orang.

’’Peningkatan kapasitas perusahaan dan kompetensi tenaga kerja di sektor konstruksi menjadi perhatian khusus kami. Karenya, kami telah menjalin kerja sama dengan berbagai asosiasi profesi dan lembaga terkait sektor konstruksi untuk melakukan berbagai upaya yang dapat meningkatkan kemampuan manajerial dan keahlian teknis para pelaku konstruksi. Selain itu, kami optimalkan mereka untuk terus mengikuti pelatihan bersertifikasi agar dapat bersaing dengan negara lain,” lanjut Yusid Toyib.

Masih menurut Yusid, Kementerian PUPR terus mensosialisasikan peraturan Menteri PUPR No. 45/PRT/M/2015 tentang pengembangan keprofesian berkelanjutan tenaga ahli konstruksi, atau yang dikenal dengan Continuing Professional Development (CPD). Ia mengimbau agar semua tenaga kerja konstruksi terus meningkatkan keahlian dan perilaku profesional dalam skala nasional dan internasionl.

’’Regulasi ini dituangkan dalam rangka mengantisipasi diterapkannya MEA,’’ ucapnya.

Memanfaatkan Indonesia Infrastructure Week

Sebagai tuan rumah penyelenggaraan pameran Konstruksi Indonesia 2016, yang tahun ini akan hadir bersama ”The Big 5 Construct Indonesia 2016”, Kementerian PUPR mengharapkan para pelaku usaha industri konstruksi dapat memanfaatkan forum ini untuk mendapatkan informasi berharga atas berbagai peralatan dan praktik-praktik terbaik di sektor konstruksi.

Ratusan peserta pameran baik lokal maupun internasional akan menghadirkan produk-produk paling inovatif dan baru bagi dunia bangunan dalam ”The Big 5 Construct Indonesia 2016”. Diselenggarakan oleh dmg events Timur Tengah, Asia dan Afrika, pameran ini juga menyediakan program edukasi yang ekstensif.

Para profesional di bidang konstruksi dapat menghadiri berbagai CPD Workshop secara gratis yang dipandu oleh para ahli, termasuk topik-topik seperti Manajemen Proyek, BIM, LEED dan workshop satu hari yang didedikasikan untuk topik berkelanjutan pada 11 November 2016.

’’The Big 5 Construct Indonesia 2016 dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan sektor konstruksi lokal. Kami tidak hanya menghadirkan produk-produk terbaik dan terkini dari manufaktur global di dunia bangunan; pameran ini juga akan menyelenggarakan rangkaian workshop praktis yang dapat dihadiri secara gratis, membahas tren industri, peralatan, aplikasi dan teknik bagi sektor konstruksi dan infrastruktur di Indonesia,” kata Ashley Roberts, Event Director, dmg events.

Konstruksi Indonesia 2016 dan The Big 5 Construct Indonesia diselenggarakan bersama dalam rangka Indonesia Infrastructure Week 2016 pada 9-11 November 2016 di Jakarta Convention Center. Pameran ini akan menghadirkan sekitar 600 peserta yang berasal lebih dari 20 negara, serta mempertemukan para pemangku kepentingan dari pemerintah pusat, daerah dan sektor swasta. (inx)