Libur Lebaran, YLKI Imbau Masyarakat Waspadai Sarana Prasarana Destinasi Wisata

Libur Lebaran
Pantai Pangandaran di Ciamis, Jawa Barat, selalu dipadati wisatawan saat libur lebaran. (FOTO: Ilustrasi/IST)

Release Insider | LIBUR Lebaran tak melulu diisi dengan silaturahmi antarkeluarga, saudara, handai taulan, dan teman sejawat. Banyak masyarakat yang memanfaatkan libur lebaran untuk mengunjungi destinasi wisata.

Biasanya, mulai hari ketiga setelah Hari Raya Idul Fitri, hampir seluruh destinasi wisata penuh sesak. Nah, bagi Anda yang berencana mengisi libur lebaran dengan berwisata, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai. Apa saja?

Menurut Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi, mengisi libur lebaran dengan berwisata berdampak positif terutama dalam menumbuhkan perekonomian lokal, dan membangkitkan semangat berwisata. Akan tetapi, saat pengunjung destinasi wisata mengalami lonjakan, tak jarang mengakibatkan petaka.

Baca juga: Sriwijaya Air Group Buka Rute Jakarta-Banyuwangi PP

Karena itu, Tulus mengimbau masyarakat waspada dengan menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. YLKI juga meminta dinas pariwisata setempat melakukan audit teknis terlebih dahulu terhadap sarana prasarana di lokasi wisata.

”Terutama sarana prasarana yang berisiko tinggi,” ujar Tulus dalam keterangan tertulisnya.

Selain itu, lanjut Tulus, pengelola wisata harus punya standar kapasitas maksimum untuk pengunjung. Jangan memaksakan menjual tiket masuk padahal lokasi wisata sudah over capacity.

”Over capacity bukan hanya mengganggu kenyamanan, tapi juga keamanan dan keselamatan konsumen sebagai pengguna jasa wisata,” katanya.

Ia menambahkan, pengelola wisata harus mewajibkan adanya alat-alat penunjang keselamatan seperti pelampung atau jaket keselamatan untuk wisata air yang berisiko tinggi, seperti danau, telaga, dan pantai. Petugas penjaga pantai/danau mutlak diperlukan sehingga ketika terjadi kecelakaan pada konsumen, korban bisa cepat dievakuasi dan diselamatkan.

Baca juga: Yuk, Cek Kolesterol Usai Lebaran!

Tak hanya itu, dinas pariwisata dan pengelola wisata harus memonitor harga-harga makanan/minuman agar tidak ”nggetok” konsumen. Pengelola warung, restauran harus mencantumkan daftar menu sekaligus dengan harganya secara transparan.

”Pengunjung wisata jangan dieksploitasi dengan harga makanan dan minuman yang ugal-ugalan,” ujarnya menegaskan.

Lebih lanjut YLKI juga meminta pihak pengelola menambah fasilitas toilet dengan toilet portable dan menjamin ketersediaan air. Adanya jumlah antrian di toilet, khususnya toilet perempuan, menunjukkan kurangnya fasilitas.

”Jumlah toilet perempuan seharusnya lebih banyak daripada toilet laki-laki,” ucap Tulus.

Lokasi wisata juga seharusnya dilengkapi dengan klinik kesehatan dan petugas medis yang stand by selama lokasi wisata beroperasi. Ini sangat penting untuk melakukan pertolongan pertama dan bahkan menyelamatkan korban dari fatalitas.

Di sisi lain, YLKI mengingatkan agar konsumen tidak memaksakan diri memasuki area destinasi wisata, jika sekiranya sudah over capacity. Konsumen juga sebaiknya tidak menggunakan sarana prasarana di lokasi wisata jika terlihat sudah keropos dan tidak dirawat, atau tidak dilengkapi dengan sarana penunjang keselamatan. (inx)