Mahasiswa Bisa Jadi Agen Perubahan Pariwisata Nasional

Pariwisata Nasional

SEKTOR pariwisata nasional terus berbenah. Sebagai leading sector perekonomian nasional, pariwisata harus mampu bergerak secara berkesinambungan sehingga mampu meraih target yang diinginkan.

Bicara pariwisata tidak sekadar soal destinasi. Infrastruktur, akses, dan sumberdaya manusianya jelas saling terkait. Tidak mungkin menjadikan pariwisata sebagai ’’lokomotif’’ perekonomian nasional yang mampu mengerek pendapatan negara, jika ketiga poin penting tadi tidak bersinergi.

Karena itu, gebrakan baru harus dimulai. Gerakan-gerakan nyata yang bukan sekadar seremonial. Selanjutnya, promosi yang ’’jor-joran’’ pun bisa mendapatkan hasil yang maksimal juga.

Baca juga: Potensi Wisata Bahari Morowali Sulawesi Tengah

Salah satu gebrakan baru yang tengah dipersiapkan Kementerian Pariwisata adalah melakukan pengkaderan pada mahasiswa. Melalui program ’’Pariwisata Goes To Campus’’ para mahasiswa disiapkan untuk menjadi agen-agen perubahan.

Deputi Bidang Kelembagaan Kepariwisataan Kemenpar, Prof. Ahman Sya, mengungkapkan, memasukkan kalangan mahasiswa dalam program pengembangan SDM pariwisata, bukan tanpa alasan. ”Mereka akan menjadi kader perubahan atau agent of change yang punya pengaruh luar biasa,” kata Ahman Sya di Jakarta, Kamis (30/6).

Untuk tahap awal, program ’’Pariwisata Goes To Campus’’ akan membidik universitas-universitas terbesar di 10 destinasi prioritas. Antara lain Toba, Borobudur, Bromo-Tengger-Semeru, Labuan Bajo, Tanjung Kelayang, Tanjung Lesung, Kepulauan Seribu dan Kota Tua, Mandalika, Wakatobi, dan Morotai.

Baca juga: Jakarta Ditunjuk Jadi Sekretariat SDM Pariwisata Asean

’’Kampus itu tempatnya para pemikir, kaum intelektual muda yang punya semangat tinggi. Yang namanya mahasiswa, jika ia bergerak akan mempercepat proses perubahan termasuk pergerakan dan sosialisasi mengenai pariwisata. Jadi, apabila pariwisata melibatkan mahasiswa, akan mendapatkan kepercayaan yang lebih tinggi dari masyarakat dalam dan luar negeri,’’ tuturnya.

Setelah membangun kader di 10 destinasi prioritas, lanjut Ahman, pihaknya akan melanjutkan program ini ke luar daerah-daerah tersebut. ’’Tapi tetap akan kita utamakan universitas terbesar dulu. Kalaupun kampus-kampus umum tapi yang punya pengaruh luar biasa, misalnya Universitas Indonesia,’’ ujarnya.

Ahman Sya menambahkan, kalangan kampus dan mahasiswa merupakan salah satu unsur dalam pentahelix (academy, business, government, community, media). Karena itu, pembangunan pariwisata dengan melibatkan kampus atau mahasiswa akan menjadi sebuah gerakan yang efektif.

’’Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa berbagai perubahan mendasar selalu melibatkan kalangan kampus dan mahasiswa sejak 1908, 1928, 1945, 1966, 1975, dan 1998,’’ kata Ahman Sya.

Lalu, apa saja program yang disiapkan dalam ’’Pariwisata Goes To Campus’’? Lelaki asal Ciamis, Jawa Barat, ini mengungkapkan, ada beberapa agenda yang akan dilakukan. Antara lain seminar kepariwisataan, focus group discussion (FGD), pelatihan kader intelektual pariwisata sebagai agen perubahan, pembangunan jaringan digital kader pariwisata antar-kampus, dan kongres pariwisata nasional.

’’Tahun depan akan kita adakan kongres pariwisata nasional. Akan tetapi, persiapannya harus dimulai dari sekarang,’’ tandasnya. (evi)