Media Sebagai Partner Dalam Pengembangan Pariwisata

pengembangan pariwisata

Release Insider | Bali: Salah satu aspek penting dalam pengembangan pariwisata adalah media, yang berfungsi sebagai penghubung antara masyarakat, pengusaha dengan pemerintah.

Prof. Dr. Ahman Sya kembali menegaskan hal ini saat membuka Rakornas 2016 di Bali.

“Media merupakan salah satu aspek dalam Penta Helix selain akademisi, dalam hal ini yaitu sekolah tinggi, aspek bisnis, korporasi, government dan media,” ucap Ahman Sya saat pembukaan Rakornas Bali.

Dr. Dewa Putu Oka Prasiasa, A.Par., MM, dosen STIMI Handayani Denpasar, mengungkapkan korelasi antara media dengan pariwisata sangatlah erat.

“Dalam produk pariwisata ada yang disebut sebagai Ancillary, yang mana berisi 3 aspek, masyarakat, pemerintah dan pengusaha. Peranan media disana adalah sebagai mekanisme pengontrol,” papar Dewa, Bali, Kamis (4/8).

Lebih lanjut, dipaparkan oleh Dewa, media memiliki 3 fungsi dalam kaitannya dengan pariwisata.

“Salah satu fungsi media adalah sebagai pihak yang dapat memberikan analitis kritis konstruktif pada produk kepariwisataan,” kata Dewa.

Analisa itu bisa merupakan pengamatan pada kebijakan pemerintah di sektor masyarakat, bisa terkait pada respon masyarakat terhadap kebijakan tersebut maupun reaksi dari dunia usaha.

“Media diharapkan bisa membantu suatu proses pengecekkan kebijakan pemerintah dalam hal pariwisata, apakah perlu perubahan atau tidak. Dan media juga dapat menyajikann masukan pada dunia usaha mengenai peluang-peluang yang dapat dimanfaatkan oleh dunia usaha,” kata Dewa.

Setelah melakukan analisa, media akan berfungsi sebagai pengembang budaya dromologi dan pembentukan opini publik terkait produk kepariwisataan.

“Dengan tulisan atau visual dari media, opini dari pemirsa atau pendengarnya akan terbentuk sesuai dengan apa yang ditampilkan. Sehingga perlu bagi media untuk mengerti tetang produk pariwisata yang diekspos, untuk menghindari konflik terjadi,” kata Dewa.

Dalam kaitannya dengan kode etik jurnalistik, Ida Bagus Gede Agung Widana, Dosen ST Pariwisata Nusa Dua Bali, seorang jurnalis harus memenuhi kode etiknya dalam menyajikan berita terkait pariwisata.

“Seorang jurnalis harus bisa menyajikan berita sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan, sehingga wisatawan akan mendapatkan informasi yang benar,” ucap Bagus.
Media sebagai partner dalam pengembangan pariwisata

Salah satu aspek dalam pariwisata adalah media, yang berfungsi sebagai penghubung antara masyarakat, pengusaha dengan pemerintah. Dan media juga berperan penting dalam membantu perkembangan pariwisata.

Prof. Dr. Ahman Sya kembali menegaskan hal ini saat membuka Rakornas 2016 di Bali.

“Media merupakan salah satu aspek dalam Penta Helix selain akademisi, dalam hal ini yaitu sekolah tinggi, aspek bisnis, korporasi, government dan media,” ucap Ahman Sya saat pembukaan Rakornas Bali.

Dr. Dewa Putu Oka Prasiasa, A.Par., MM, dosen STIMI Handayani Denpasar, mengungkapkan korelasi antara media dengan pariwisata sangatlah erat.

“Dalam produk pariwisata ada yang disebut sebagai Ancillary, yang mana berisi 3 aspek, masyarakat, pemerintah dan pengusaha. Peranan media disana adalah sebagai mekanisme pengontrol,” papar Dewa, Bali, Kamis (4/8).

Lebih lanjut, dipaparkan oleh Dewa, media memiliki 3 fungsi dalam kaitannya dengan pariwisata.

“Salah satu fungsi media adalah sebagai pihak yang dapat memberikan analitis kritis konstruktif pada produk kepariwisataan,” kata Dewa.

Analisa itu bisa merupakan pengamatan pada kebijakan pemerintah di sektor masyarakat, bisa terkait pada respon masyarakat terhadap kebijakan tersebut maupun reaksi dari dunia usaha.

“Media diharapkan bisa membantu suatu proses pengecekkan kebijakan pemerintah dalam hal pariwisata, apakah perlu perubahan atau tidak. Dan media juga dapat menyajikann masukan pada dunia usaha mengenai peluang-peluang yang dapat dimanfaatkan oleh dunia usaha,” kata Dewa.

Setelah melakukan analisa, media akan berfungsi sebagai pengembang budaya dromologi dan pembentukan opini publik terkait produk kepariwisataan.

“Dengan tulisan atau visual dari media, opini dari pemirsa atau pendengarnya akan terbentuk sesuai dengan apa yang ditampilkan. Sehingga perlu bagi media untuk mengerti tetang produk pariwisata yang diekspos, untuk menghindari konflik terjadi,” kata Dewa.

Dalam kaitannya dengan kode etik jurnalistik, Ida Bagus Gede Agung Widana, Dosen ST Pariwisata Nusa Dua Bali, seorang jurnalis harus memenuhi kode etiknya dalam menyajikan berita terkait pariwisata.

“Seorang jurnalis harus bisa menyajikan berita sesuai dengan kenyataan yang ada di lapangan, sehingga wisatawan akan mendapatkan informasi yang benar,” ucap Bagus. (aan)