Melihat Lebih Dekat Ketangguhan Para Pedagang Bakso Keliling

Pedagang Bakso
Penyerahan bantuan gerobak bakso berikut perlengkapan pendukungnya yang dilakukan secara simbolik oleh GM PT. Miwon Indonesia I Wayan Mariadi. Bantuan tersebut termasuk dalam Program Pejuang Tangguh yang sudah digagas PT. Miwon Indonesia sejak 2011 lalu. (Foto: Dompet Dhuafa for Release Insider)

Release Insider | Tak semua pahlawan harus gugur di medan laga. Masih banyak para pejuang berjiwa ksatria yang hidup dalam keseharian kita, salah satunya pedagang bakso keliling.

Apakah hanya dengan berjualan bakso, lantas mereka pantas disebut pejuang? Kisah heroik mereka tertuang penuh dalam acara diskusi interaktif bertajuk ”Pejuang Ekonomi Mikro” yang digelar PT. Miwon Indonesia bersama Dompet Dhuafa di kantor Miwon, Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Dalam diskusi yang dihelat dalam rangka memperingati hari ulang tahun Miwon ke-44 tersebut, hadir para pedagang bakso sebagai narasumber. Salah satu segmen diskusi mengupas tentang kisah perjuangan para pedagang bakso dan sudut pandang mereka mengenai makna pahlawan. Seperti apa?

Adalah Midi, salah seorang pedagang bakso, menuturkan awal perjuangannya memulai usaha pada 1992 lalu. Ia mengakui, tidak mudah memulai usaha dari nol karena harus merasakan jatuh bangun dan tambal sulam modal.

Baca juga: Indonesia Butuh Lebih Banyak Pejuang Kesehatan

Berulang kali Midi mencoba mencari tempat strategis untuk berjualan, namun selalu berujung dengan kegagalan. Bahkan terkadang mendapat perlakuan yang kurang baik dari pedagang bakso lainnya.

Namun, dengan ikhtiar dan tekad yang kuat akhirnya saya merasakan manisnya perjuangan,” ujar Midi.

Kini, usaha Midi semakin maju, dan ia bisa membeli rumah, kendaraan, memiliki peternakan, dan bisa menghidupi keluarga serta mertuanya. Bagi Midi, makna pahlawan adalah ketika seseorang mampu hidup mandiri dan berpijak di atas dua kakinya, serta berupaya menyiapkan generasi penerus bangsa dengan memberikan pendidikan yang baik.

Kisah berbeda dituturkan Joko, pedagang bakso lainnya. Menurut Joko, dirinya bukan sekadar berdagang tapi juga ”menyelamatkan” nyawa konsumen.

”Ya, nyawa konsumen lebih penting daripada materi. Saya sangat menyadari, makanan yang dijual dan disajikan sangat berpengaruh terhadap tubuh konsumen. Karena itu, saya tidak ingin membahayakan mereka dengan menggunakan bahan tambah pangan berbahaya seperti boraks,” tuturnya.

Ketika ditanya makna pahlawan di mata Joko, ia menjawab, ”Seseorang yang menjalani profesi dengan kejujuran, kearifan, memperhatikan norma dan aturan, serta tidak merugikan pihak lain.”

Pedagang bakso Paryadi, narasumber lainnya, menuturkan bahwa makna pahlawan adalah ketika masyarakat sekitar merasaka manfaat dan kebaikan dengan adanya keberadaan kita. Hal ini dibuktikan Paryadi saat peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 2017 lalu.

Ia memberikan bakso gratis bagi konsumen yang hafal lagu kebangsaa Indonesia Raya dan teks Pancasila. Selain itu, sebagai Ketua Komunitas Pedagang Tangguh, Paryadi juga sering mengajak anggotanya memberikan sumbangan untuk anggota lain yang terkena musibah. Ajakan ini pun disambut positif oleh anggotanya secara sukarela.

Kirno, Joko, dan Paryadi adalah para pedagang bakso berkarakter. Merekalah pahlawan Indonesia masa kini, berjuang dalam keterbatasan, namun tetap menyemai benih-benih kebaikan bagi sekitar.

Sisi kepahlawanan mereka tunjukkan dengan perjuangan untuk hidup mandiri dan memenuhi hak-hak keluarga yang menjadi tanggungan, supaya tidak menjadi beban negara atau sampah masyarakat.

Mereka pun menyelamatkan hidup orang-orang dengan cara menyajikan makanan bebas bahan tambah pangan berbahaya. Mereka jugalah salah satu penggerak dan penyokong perekonomian bangsa.

Program Pedagang Tangguh

Kirno, Joko, dan Paryadi adalah beberapa pedagang yang memperoleh bantuan dari PT. Miwon Indonesia dan Dompet Dhuafa melalui Program Pedagang Tangguh. Program yang digagas sejak 2011 tersebut merupakan program pemberdayaan masyarakat.

Sasaran program ini difokuskan terhadap pedagang bakso. Tahun ini adalah Program Pedagang Tangguh yang ke-6. Penerima manfaat di tahun keenam berjumlah 50 pedagang bakso yang tersebar di 30 wilayah Jakarta Selatan, dan 20 di Surabaya. SEJAU

Total mitra pedagang yang sudah dibina dari awal sampai saat ini sebanyak 350 orang. Inisiasi Program Pedagang Tangguh dilatarbelakangi oleh kepedulian dari PT. Miwon Indonesia, dan Dompet Dhuafa terhadap kondisi para pedagang bakso skala mikro yang masih terbatas dalam aspek produksi, managerial, dan pemasaran.

Baca juga: Program Mustahik Move Muzaki

Keterbatasan ini menjadikan mereka jauh tertinggal dan kalah kompetitif dibandingkan dengan pedagang lainnya. Sementara, mereka adalah para pedagang hebat yang mempunyai skill, kompetensim dan semangat besar untuk sukses.

Melihat kondisi tersebut, PT. Miwon Indonesia dan Dompet Dhuafa berkomitmen untuk membantu menguatkan eksistensi para pedagang bakso supaya tetap survive, mandiri, dan dipercaya publik. Ragam bantuan yang diberikan berupa penyaluran modal usaha (1set gerobak dorong dan peralatan penunjang), penguatan kapasitas mitra serta pendampingan usaha regular selama satu tahun.

Mengenai penguatan kapasitas, diimplementasikan melalui pelatihan-pelatihan yang dapat menambah pengayaan dan pemahaman mitra mengenai aspek keamanan pangan, strategi pengembangan wirausaha, pengelolaan keuangan, dan penguatan kelembagaan lokal.

Vice President Director PT. Miwon Indonesia Mr. Lee Dong Won, mengungkapkan, pihaknya berharap melalui program ini, para pedagang bakso dapat lebih mandiri secara finansial. Dengan demikian, para pedagang dapat memperbaiki taraf hidup keluarga dengan tetap menyajikan makanan sehat dan layak konsumsi.

”Yakni makanan yang bebas boraks, formalin, dan pewarna tekstil,” ujar Lee.

Sementara itu, peran Dompet Dhuafa dalam program ini adalah sebagai mitra pelaksana. Mulai dari seleksi pedagang, pengadaan perlengkapan usaha, sampai pendampingan intensif.

”Supaya program tepat sasaran, kami memiliki prosedur terkait seleksi dan verifikasi mitra, melalui assesment yang komprehensif. Dengan terpilihnya mitra yang tepat, maka
efektivitas dan keberhasilan program berupa kemandirian ekonomi dapat terwujud,” kata Ismail A. Said selaku Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa.

Menurut Ismail, hal ini sudah dibuktikan dengan peningkatan omzet dan penambahan daya beli konsumen yang dialami oleh mitra pedagang yang sudah menerima bantuan program sebelumnya. (inx)