Memaknai Tortor Lebih dari Sekadar Tarian

Tortor
Pengunjung Desa Tomoko di Pulau Samosir ketika ikut menarikan tari tortor. (Foto: Release Insider).

Release Insider | TORTOR adalah tarian khas Sumatera Utara yang disajikan dengan musik gondang. Bagi Anda yang tengah berkunjung ke daerah ini, cobalah ikut manortor (menari) dan rasakan makna yang terkandung di dalamnya.

Ya, tarian tortor bukan sekadar seremonial. Secara fisik, gerakan-gerakannya menunjukkan sebuah media komunikasi di mana setiap partisipan ikut berinteraksi satu sama lain.

Ketika berkesempatan mengunjungi Desa Tomok, Pulau Samosir, tim Release Insider mengunjungi salah satu lokasi yang menyiapkan ritual tarian tersebut. Di sana, bersama rombongan lain, kami diberikan arahan singkat dari salah seorang hasuhutan.

Hasunutan adalah tuan rumah atau pihak yang mempunyai hajat. Ia memberitahu kami apa saja yang harus dilakukan selama manortor, termasuk saat mengangkat tangan yang tak boleh melebihi bahu.

”Kalau melebihi bahu, itu artinya kita menantang. Bisa menantang siapa pun. Misalnya di bidang ilmu perdukunan, atau adu pencak silat (moncak), atau adu tenaga batin, dan lain-lain,” ujarnya.

Tortor dan musik gondang ibarat koin yang tidak bisa dipisahkan. Sebelum acara dilakukan terbuka, terlebih dahulu melakukan acara khusus yang dinamakan Tua ni Gondang.

Sang hasunutan akan meminta kepada penabuh gondang dengan kata-kata yang sopan dan santun. Isi kalimatnya seperti ini: ”Amang pardoal pargonci.”

Kemudian dilanjutkan dengan permintaan-permintaan sebagai berikut:

”Alualuhon ma jolo tu ompungta Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa na adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion.”

”Alualuhon ma muse tu sumangot ni ompungta sijolojolo tubu, sumangot ni ompungta paisada, ompungta paidua, sahat tu papituhon.”

”Alualuhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat nalolo.”

Setiap selesai satu permintaan, selalu diselingi dengan pukulan gondang dengan ritme tertentu dalam beberapa saat. Setelah permintaan tersebut dilaksanakan dengan baik maka barisan keluarga suhut yang telah siap manortor mengatur susunan tempat berdirinya untuk memulai menari.

Saat semua partisipan mulai menari, patung si Gale-Gale yang berada di tengah arena, juga akan ikut bergoyang. Tentu saja ada orang di belakangnya yang menggerakkan patung tersebut.

Perlu diketahui, setiap penari tortor harus memakai ulos, baik yang diselendangkan di bahu maupun ikat kepala. Biasanya, pihak tuan rumah sudah menyediakannya.

Bagi masyarakat Batak, tari tortor kerap digunakan sebagai sarana penyampaian batin baik kepada roh-roh leluhur maupun kepada orang yang dihormati (tamu-tamu). Itu sebabnya, tarian ini disampaikan dalam bentuk gerakan-gerakan yang menunjukkan rasa hormat.

Dalam resepsi atau sebuah hajat, biasanya hasunutan akan meminta jenis lagu permohonan kepada dewa dan roh-roh leluhur agar keluarga suhut yang mengadakan acara diberi keselamatan kesejahteraan, kebahagiaan, dan rezeki yang berlimpah ruah. Upacara adat yang akan dilaksanakan menjadi sumber berkat bagi suhut dan seluruh keluarga, serta para undangan. (inx)

SHARE
Previous articleSail Selat Karimata 2016, Momentum Mengembalikan Budaya Bahari
Next article2017, Target Sertifikasi Tanah Melonjak Lima Kali Lipat
Inge Mangkoe adalah seorang wartawan yang sudah kurang lebih 15 tahun berkiprah di dunia jurnalistik. Passion menulis sudah ia rasakan sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia mengawali karier profesional sebagai jurnalis di Jawa Pos Group (Rakyat Merdeka dan Indopos). Inge juga yang ikut membidani koran Lampu Merah (sekarang Lampu Hijau) bersama sejumlah jurnalis dari Rakyat Merdeka. Selain di Jawa Pos Group, Inge pun pernah bergabung di salah satu koran daerah milik Media Indonesia Group: Lampung Post, selama kurang lebih dua tahun.