Membangun Meunasah, Mempercepat Pemulihan Jiwa

Meunasah Krueng yang berada di Desa Grong Grong, Kec. Meureudu, Kab. Pidie jaya, Aceh, yang akan direkonstruksi pertama karena kondisinya yang sangat memprihatinkan. (Foto: ACT for Release Insider)

Release Insider | BAGI masyarakat Aceh, meunasah bukan sekadar tempat beribadah dan kegiatan kerohanian lain. Lebih dari itu, meunasah merupakan rumah peradaban yang sangat kokoh.

Ya, meunasah bagi masyarakat Aceh ibarat langkah awal memulai segalanya. Perannya dalam kehidupan masyarakat Aceh sangat krusial.

Hal ini pula yang disadari tim relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT). Organisasi berbasis sosial tersebut berkomitmen membangun kembali meunasah di Bumi Serambi Makkah.

Sejak gempa bumi berkekuatan 6,5 skala richter mengguncang Pidie Jaya beberapa waktu lalu, kehidupan di Aceh seolah lumpuh. Banyak bangunan retak, rusak, bahkan roboh. Puluhan meunasah pun ikut rata dengan tanah.

Meski puing-puing bangunan masih menjadi pemandangan di beberapa sudut kota, masyarakat Aceh mulai bangkit. Mereka merangkak mengembalikan kehidupan seperti semula.

Program pembangunan meunasah diawali di Krueng, Desa Grong Grong, Kec. Meureudu, Kab. Pidie jaya, Aceh. Lokasi ini dipilih karena dampaknya yang memprihatinkan. Bangunan meunasah nyaris tidak bisa diperbaiki sehingga harus dibangun ulang.

’’Kami senang dengan rencana pembangunan ini. Sebab, selain digunakan untuk salat berjamah, kami menggunakan meunasah untuk aktivitas pengajian ibu-ibu, pengajian bapak-bapak, dan mengaji anak-anak,” tutur Tijalikja, salah seorang warga Grong-grong Kreung.

Tim konstruksi sudah mulai didatangkan ke lokasi. Ada sekitar 150 unit masjid dan meunasah yang harus direkonstruksi.

”Insya Allah hingga akhir Desember, ACT berupaya untuk merekonstruksi 10 meunasah yang siap dibangun berkat gerakan kepedulian dari donor kemanusiaan dan mitra,” ungkap Presiden ACT Ahyudin, dalam keterangan tertulisnya.

Ahyudin menambahkan, gelombang kepedulian yang hadir menyapa Aceh memerlukan kapasitas manajemen dan trust.

’’Muslimin Indonesia sedang kompak-kompaknya. Kita tidak punya alasan untuk melambat-lambatkan pemulihan Pidie Jaya. Makin cepat, makin bagus. Karena itu, ACT memilih perbaikan meunasah untuk mempercepat pemulihan jiwa. Bukan hanya baik bagi masyarakat korban, bahkan baik untuk kita semua, untuk bangsa Indonesia,” ujar Ahyudin.

Ia menyadari, biaya pembangunan tersebut tidak kecil. Akan tetapi, karena optimisme sebagai kekuatan yang besar, tak ada keraguan dalam melakukannya.

Meunasah
Tim relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyembelih sapi untuk korban gempa Pidie Jaya. (Foto: ACT for Release Insider)

Sembelih Sapi

Tidak hanya mengalokasikan perhatian pada rekonstruksi meunasah, ACT juga hadir untuk meringankan derita masyarakat Aceh yang tertimpa bencana gempa bumi, dengan menyembelih sapi sebagai santapan para korban.

Komandan Disaster Emergency Relief Management (DERM) ACT, Yusnirsyah, mengungkapkan, keriuhan makan bersama mendatangkan energi berkarya dan menguatkan solidaritas yang baik.

’’Ini aliran rasa syukur dari yang selamat dan tidak menjadi korban dan rasa syukur korban yang memperoleh dukungan dan tenaga dari saudara-saudaranya dimanapun asalnya,” ujarnya.

Tak disangkal bahwa saat ini masyarakat masih diliputi ketegangan pasca gempa besar dan tambahan gempa-gempa susulan. Karena itu, ACT hadir menghibur masyarakat dengan menu bergizi.

Pemotongan sapi bukan hal yang setiap hari berlangsung di tengah masyarakat Aceh. Masyarakat Aceh memotong sapi di hari istimewa, seperti saat Idul Adha, dan menjelang Lebaran (Idul Fitri). Tradisi ini disebut meugang.

‎Membeli sapi di luar musim itu, biasanya susah. Orang Aceh tidak biasa menjual sapi kecuali untuk urusan mendesak seperti untuk biaya pendidikan anak, atau perhelatan pernikahan.

’’Alhamdulillah, sadar ini untuk kemanusiaan, kami bisa memperoleh sejumlah sapi, terutama dari mereka yang menjadi korban bencana,’’ kata Yusnirsyah yang diamanahi memimpin implementasi program pemulihan Pidie Jaya. (ant)