Mencegah Kebakaran Akibat Korsleting, Gampang Kok!

Kebakaran Akibat Korsleting
Ilustrasi (Foto: IST)

Release Insider | MENCEGAH risiko kebakaran akibat korsleting atau hubungan listrik arus pendek, sebenarnya tidak sulit. Solusinya hanya ada di peralatan listrik itu sendiri. Terpenting adalah kepedulian Anda terhadap keamanan penggunaan listrik.

Ya, keamanan penggunaan listrik ada di tangan kita sendiri sebagai konsumen. Karena itu, kita wajib memahami kondisi listrik di rumah atau bangunan yang dipakai.

Musibah kebakaran Pasar Senen di Jakarta Pusat, belum lama ini, semakin menambah panjang deretan daftar pasar tradisional di Indonesia terbakar akibat korsleting. Meski tidak ada korban jiwa, namun kerugian yang dialami pedagang diperkirakan menembus angka ratusan miliar rupiah.

Menurut data dari Ikatan Pedagang Pasar Tradisional, sejak 1974, Pasar Senen telah mengalami delapan kali kebakaran hebat. Salah satunya terjadi pada 2014, diawali oleh api yang juga timbul akibat korsleting.

Sementara itu, data dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (PKP) DKI Jakarta menunjukkan, dari 1.139 kasus kebakaran yang terjadi sepanjang 2016, listrik menjadi penyebab kebakaran terbanyak, yaitu 836 kasus. Hal ini tentunya menjadi peringatan keras bagi semua pihak untuk lebih waspada akan risiko bahaya korsleting yang membahayakan keselamatan dan keamanan harta juga nyawa.

Menurut Frankco Nasarino selaku Product Marketing Partner Retail Business Schneider Electric Indonesia, meski sangat dibutuhkan untuk berbagai kebutuhan manusia, namun listrik juga dapat menjadi sesuatu yang sangat berbahaya jika tidak digunakan dengan baik.

’’Insiden yang timbul seperti kebakaran akibat korsleting, seringkali diawali dari buruknya instalasi listrik atau penggunaan peralatan listrik yang tidak memenuhi standar. Masyarakat selaku konsumen harus selalu meningkatkan kewaspadaannya akan bahaya listrik yang mengintai,” ujarnya.

Baca juga: Dukungan Pembangunan PLTN Terus Meningkat

Lalu, apa solusinya untuk mencegah kebakaran akibat korsleting?

Frankco memaparkan, untuk dapat melindungi bangunan dan rumah dari bahaya arus pendek yang berujung pada potensi kebakaran, diperlukan alat perlindungan listrik yang tepat. Dalam hal ini ada dua alat perlindungan listrik yang mampu mencegah kebakaran akibat korsleting.

Pertama adalah Mini Circuit Breaker (MCB). Alat listrik ini merupakan salah satu yang terpenting pada sebuah properti karena berfungsi untuk melindungi instalasi listrik bila terjadi pemakaian daya yang berlebihan dan arus pendek.

’’MCB akan bekerja atau trip ketika terjadi arus pendek atau saat daya listrik yang digunakan melebihi arus nominal yang tertera pada MCB,’’ ujarnya menjelaskan.

Kebakaran Akibat Korsleting
RCBO menggabungkan fungsi MCB dan Earth Leakage Circuit Breaker (ELCB), yang dapat melindungi manusia dari bahaya hubungan arus pendek. (Foto: Schneider Electric for Release Insider)

Alat perlindungan yang kedua adalah Residual Current Circuit Breaker with Over Current Protection (RCBO). Alat ini, kata Frankco, merupakan solusi perlindungan yang lebih praktis dari Schneider Electric.

Menurut Frankco, RCBO menggabungkan fungsi MCB dan Earth Leakage Circuit Breaker (ELCB) yang dapat melindungi manusia dari bahaya sengatan listrik. ’’RCBO dapat melindungi penghuni dari bahaya hubungan arus pendek dan beban lebih (overload), sekaligus dari ancaman sengatan listrik akibat arus bocor (tersetrum),’’ ucapnya.

Frankco juga menjelaskan, RCBO hadir seiring dengan berkembangnya teknologi dan juga kebutuhan masyarakat akan kepraktisan. Selain berfungsi untuk memutus arus listrik secara otomatis apabila terjadi korsleting atau pemakaian daya berlebih, RCBO juga berfungsi untuk memutus arus listrik saat terdeteksi adanya kebocoran arus listrik atau tersetrum.

Soal harga, RCBO juga terhitung lebih ekonomis dibandingkan dengan MCB ditambah ELCB. Bentuknya juga lebih tipis daripada ELCB sehingga dapat menghemat ruang di dalam kotak MCB.

Pengecekan rutin

Karena keamanan penggunaan listrik ada di tangan konsumen, maka masyarakat wajib memahami kondisi peralatan listrik yang digunakannya. Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Pasal 29 UU nomor 30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan.

Aturan itu menyebutkan, konsumen wajib melaksanakan pengamanan terhadap bahaya yang mungkin timbul akibat pemanfaatan tenaga listrik, serta menjaga keamanan instalasi tenaga listrik miliknya. Untuk itu, masyarakat sangat dianjurkan untuk melakukan pengecekan rutin terhadap instalasi listrik yang dimilikinya.

Baca juga: Menghindari Ancaman Sengatan Listrik karena Arus Bocor

Berikut beberapa hal yang perlu dilakukan:

  • Mengecek kondisi kabel

Ukuran dan daya kabel yang dipasang harus sesuai dengan peruntukannya untuk mencegah risiko kelebihan beban listrik. Selain itu, jika merujuk pada Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No. 45 tahun 2005 pasal 15 ayat 3, maka instalasi kabel di bangunan dan rumah harus diperiksa setiap 15 tahun.

  • Melakukan tes fungsi secara berkala

RCBO harus dites secara periodik untuk memastikan fungsinya masih bekerja dengan baik atau tidak. Cara mengetesnya mudah, hanya dengan menekan tombol berwarna hitam dengan tanda “T”. Apabila RCBO bekerja atau trip, maka fungsinya masih bekerja dengan baik.

  • Tidak menggunakan ekstensi stop kontak yang berlebihan

Penggunaan stop kontak yang bertumpuk-tumpuk berisiko memunculkan percikan api akibat titik kontak yang tidak sempurna antar stop kontak. (inx)