Potensi Wisata Bahari Morowali Sulawesi Tengah

wisata bahari suku bajo

Banyak potensi wisata yang bisa digali dari Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Terutama sebagai destinasi maritim. Spot yang dimiliki Morowali banyak dicari divers dari berbagai negara.

Demikian disampaikan Rizki Handayani, asisten deputi Pengembangan Pariwasata Asia Tenggara Kementerian Pariwisata di Jakarta, Rabu (4/11). Karena itu, pihaknya sangat mendukung Festival Bajo Pasakayyang yang akan digelar mulai 21 November mendatang di Desa Kaleroang, Kecamatan Bungku Selatan.

”Keunikan budaya khas Suka Bajo yang beraktivitas di laut dapat menjadi daya tarik wisata yang layak dikelola dan dipromosikan menjadi wisata bahari,” katanya.

Bajo sendiri merupakan sebuah komunitas suku laut yang disebut Gypsi Laut, Pengembara Samudra, Nomadic Sea, dan masuk wilayah Kabupaten Morowali.

Menurut Rizki, Kemenpar berkomitmen membantu event ini sebagai upaya promosi sehingga Morowali menjadi destinasi maritim yang terkenal seperti Raja Ampat, Wakatobi, dan Bunaken. Apalagi Morowali secara geografis berada di tengah sehingga mempermudahkan turis asing berwisata bahari ke destinasi bahari lainnya.

Dalam hal ini, lanjut Rizki, Kemenpar akan menggandeng asean tourism network untuk mempromosi potensi wisata bahari di Kabupaten Morowali. ”Selain kaya laut, di sini juga kaya akan budaya yang terlihat dari keaslian suku Bajo,” imbuhnya.

Wakil Bupati Morowali SU Marundtuh mengungkapkan, Suku Bajo sangat menghargai tradisi turun temurun, loval wisdom yang terpelihara sejak ratusan tahun lalu. ”Morowali merupakan salah satu wilayah di mana Suku Bajo tinggal, tepatnya di kepulauan Sombori,” kata Marundtuh.

Menurutnya, salah satu tujuan festival ini adalah menjadikan Morowali sebagai venue event bahari Internasional. ”Festival ini akan menjadi momentum kita untuk memperkenalkan kejayaan Suku Bajo dan menjadikan Morowali sebagai venue eent Internasional,” paparnya.

Marundtuh berharap pemerintah khusus Kemenpar mendukung penuh kegiatan ini dengan mensinergikan alur pelayaran sailing maupun festival yang telah lebih dulu digelar, seperti Sail Bunaken, Sail Banda, Sail Wakatobi, Sail Morotai, Sail Tomini atau Festival Jailolo, dll.

Dijelaskan, Kepulauan Sombori, tempat domisili Suku Bajo merupakan satu kawasan konservasi laut seluas 157 ribu hektare. Tempat tinggal berbagai jenis biota laut langka nan eksotik, bukit karang dan hamparan pasir putih yang belum sepenuhnya terekploitasi seara ekonomis.

”Keindahan alam Sombori belum banyak diketahui, bahkan oleh masyarakat Morowali sendiri. Spot inilah yang sedang kita kembangkan menjadi destinasi wisata andalan Kabupaten Morowali,” tuturnya. [RI]