Potensi Wisata Religi Terganjal Infrastruktur

Wisata Religi
Wawan Dalang Ajen dari Kementerian Pariwisata (dua dari kiri) bersama Ketua Yayasan Pesantren Sirnarasa, Panjalu, Ciamis, Jawa Barat, saat menggelar konferensi pers terkait Wisata Religi di Ciamis, Sabtu (21/11)

Niat pemerintah pusat untuk mengembangkan wisata religi di tanah air, sejatinya didukung penuh oleh pemerintah daerah. Utamanya dalam membenahi sarana prasarana.

Berdasarkan penelitian bahwa dalam kurun waktu lima tahun terakhir ini, terjadi kenaikan hingga 165% atas perjalanan wisata yang didasarkan pada keyakinan diri (faith based).

UNWTO (2010) memperkirakan sekitar 330 juta wisatawan global atau kurang lebih 30% dari total keseluruhan wisatawan global melakukan kunjungan ke situs-situs religius penting di seluruh dunia, baik yang didasarkan pada motif spiritual atau pun motif kognitif.

Sayangnya, destinasi wisata religi di Indonesia belum sepenuhnya dikelola secara maksimal. Seperti halnya yang tampak dalam wisata religi di Pesantren Sirnarasa, Panjalu, Cismis, Jawa Barat. Infrastrukturnya perlu dibenahi agar wisatawan yang datang bisa terakomodasi dengan baik.

”Pesantren Sirnarasa sudah ada sejak 1980. Namun, sesuai ajaran Pangersa Abah Gaos (pendiri pesantren, Red), kami tidak akan pernah meminta apa-apa, termasuk pada pemerintah daerah. Tapi jika dikasih, kami tidak menolak. Jadi soal pemda, itu biar kawan-kawan media saja yang mengkritisi,” ujar Dadang M., ketua Yayasan Pesantren Sirnarasa di Sabtu (21/11) malam.

Terkait fasilitas homestay untuk para wisatawan, pihaknya lebih cenderung untuk memberdayakan masyarakat setempat. ”Tidak perlu ada hotel yang bagus tapi berdayakan masyarakat. Seperti disampaikan Menteri Pariwisata, semakin dilestarikan semakin mensejahterakan masyarakat,” katanya.

Karena itu, lanjutnya, masyarakat diminta untuk menjaga dan merawat rumah mereka, termasuk menyediakan fasilitas kamar dan sanitasi yang memadai. Saat ini, pengunjung semakin membeludak.

”Sehari-hari mata pencaharian masyarakat adalah petani. Kalau ini bisa dimaksimalkan, bisa mensejahterakan masyarakat. Dari pihak kementerian pariwisata sudah melakukan workshop dengan masyarakat yang rumahnya sering disinggahi. Mereka berikan pelatihan misalnya cara memperhatikan sanitas, cara melayani tamu, dll,” paparnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wawan Dalang Ajen, salah satu pejabat di Kementerian Pariwisata, menyatakan, pihaknya tidak serta merta menempelkan embel-embel wisata religi, melainkan dari hasil riset.

”Beberapa kali saya lihat kegiatan manakib di berbagai tempat, pengunjungnya selalu membeludak. Ini luar biasa. Yang datang tidak hanya dari lingkungan pesantren, taoi juga dari luar kota bahkan luar negeri,” ujarnya. [RI]