Praktik Dumping Masih Ditemukan, Indonesia Merugi

anti dumping

BERDASARKAN hasil penyelidikan, Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) menyimpulkan bahwa kerugian materil masih dialami Indonesia. Itu karena masih dilakukannya dumping oleh India, Taiwan dan eksportir produsen dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT). KADI juga menemukan peningkatan volume impor dari RRT yang signifikan.

Karena itu, Pemerintah Indonesia tetap mengenakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) untuk produk Polyester Staple Fiber (PSF) dari India RRT dan Taiwan.

Melalui Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 73 Tahun 2016, besaran BMAD telah disesuaikan. ”Besaran BMAD adalah 5,82%-16,67% untuk India, 13%-16,10% untuk RRT dan 28,47% untuk Taiwan,” jelas Ketua KADI Ernawati di Jakarta, Kamis (2/6).

Ernawati menambahkan, hasil penyelidikan menemukan adanya price depression dan price suppression pada impor dari RRT selama periode penyelidikan. Terdapat juga peningkatan produksi serta kapasitas produksi PSF di RRT, India dan Taiwan yang mengindikasikan adanya oversupply PSF di negara-negara tersebut.

Sejak 17 November 2011, Indonesia mengenakan BMAD untuk impor produk PSF yang berasal dari India, RRT dan Taiwan melalui PMK Nomor 171/PMK.011/2011. Peraturan tersebut berlaku selama lima tahun. Menjelang berakhirnya masa pengenaan BMAD menurut PMK tersebut, diidentifikasi melalui bukti awal bahwa ada peningkatan volume impor PSF yang berasal dari RRT.

Kerugian Indonesia juga masih berlanjut, yang artinya, masih terjadi praktik dumping oleh ketiga negara. Sebelumnya, pada 9 Desember 2014, KADI mengumumkan dimulainya penyelidikan review (interim dan sunset review) terhadap pengenaan BMAD atas PSF yang diimpor atau berasal dari India, RRT dan Taiwan.

Penyelidikan tersebut merupakan tindak lanjut dari permohonan penyelidikan interim review atas pengenaan BMAD terhadap impor PSF, khususnya asal RRT yang diterima KADI pada 22 Agustus 2014.
Permohonan tersebut diajukan oleh tiga importir PSF, yaitu PT Indorama Synthetics Tbk, PT Asia Pasific Fibers Tbk dan PT Indonesia Toray Synthetics. Ketiga importir juga mengajukan permohonan penyelidikan sunset review atas pengenaan BMAD terhadap impor PSF asal India, RRT dan Taiwan.

Perkembangan impor PSF oleh Indonesia dalam tiga tahun terakhir adalah 62.568 MT pada 2013, menjadi 70.288 MT pada 2014, dan menjadi 66.736 MT pada 2015.

Sekedar diketahui, menteri keuangan pada 29 April 2016 mengeluarkan PMK Nomor 73/PMK.010/2016 tentang Pengenaan BMAD terhadap Impor Produk PSF dari India, RRT dan Taiwan. Peraturan tersebut mulai berlaku setelah sepuluh hari kerja terhitung sejak tanggal diundangkan, dan berlaku selama tiga tahun terhitung sejak berlakunya peraturan tersebut.

PMK tersebut merujuk pada laporan akhir hasil penyelidikan interim dan sunset review yang dikeluarkan KADI pada 21 Agustus 2015. (ncy)