29 Tahun Reaktor Nuklir GA Siwabessy Didedikasikan untuk Indonesia

Reaktor Nuklir GA Siwabessy
Reaktor Nuklir GA Siwabessy

Release Insider | TEPAT 29 tahun lalu, Presiden RI Soeharto, menekan tombol untuk menandai mulai beroperasinya reaktor nuklir di Kawasan Pusat Penelitian Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Puspiptek) Serpong. Reaktor nuklir ketiga yang dimiliki Indonesia ini memiliki kapasitas 30 megawatt (MW) dan menjadi reaktor riset terbesar di kawasan regional Asia Pasifik.

Pada 20 Agustus 1987, reaktor secara resmi mulai dioperasikan setelah menghabiskan waktu pembangunannya selama 5 tahun. Reaktor nuklir ini diberi nama Reaktor Serba Guna G.A. Siwabessy (RSG-GAS).

Pemberian nama tersebut sebagai penghargaan kepada dr. G.A. Siwabessy, ahli radiologi yang memiliki jasa besar dalam merintis pengembangan program nuklir di Indonesia. G.A. Siwabessy adalah Direktur Jenderal Lembaga Tenaga Atom (LTA) pertama. LTA kemudian berkembang menjadi Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN).

RSG-GAS adalah reaktor riset yang memiliki fungsi serbaguna, yaitu untuk memproduksi radioisotop, pengujian bahan dan penelitian. Fungsi untuk memproduksi radioisotop sudah menghasilkan berbagai jenis radioisotop yang sangat menunjang dalam kegiatan radiodiagnostik di berbagai rumah sakit di Indonesia. Bahkan, sebagian produksinya ada yang diekspor ke Malaysia, Singapura, Vietnam dan Jepang.

Radioisotop adalah unsur yang dibuat menjadi radioaktif dan pancaran radiasinya dimanfaatkan sebagai alat untuk merunut/melacak lokasi sumber penyakit dan kelainan morfologi dan fungsi organ. Fungsi sebagai fasilitas pengujian bahan dimanfaatkan antara lain untuk menguji struktur logam dengan menggunakan pancaran radiasi neutron. Neutron adalah partikel kecil yang mampu menembus bahan logam dan menciptakan imej/gambar yang menunjukkan struktur bagian dalam logam. Salah satu hasilnya adalah untuk pengujian bahan logam yang digunakan untuk membuat bahan bakar reaktor nuklir.

Fungsi sebagai fasilitas penelitian sangat efektif digunakan untuk peningkatan penguasaan teknologi pengoperasian dan perawatan reaktor. Berkas neutron yang diproduksi dari reaktor juga dapat digunakan untuk melakukan analisis unsur dari sampel dengan menggunakan teknik analisis aktivasi neutron (AAN).

Selain itu, RSG-GAS di Kawasan Nuklir Serpong juga dilengkapi dengan laboratorium penunjang untuk penguatan kapasitas dan kapabilitas sumbe rdaya manusia di bidang nuklir, diantaranya adalah instalasi produksi radioisotop, instalasi fabrikasi bahan bakar reaktor, instalasi limbah radioaktif dan instalasi keselamatan reaktor. Seluruh instalasi tersebut secara bersinergi diperlukan dalam upaya penguatan industrialisasi nuklir, terutama untuk mendukung kemandirian dalam pembangunan dan pengoperasian pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).

Instalasi produksi radioisotop dimanfaatkan untuk memproses radioisotop yang diproduksi di reaktor, dikemas dan kemudian dikirim ke pengguna. Instalasi bahan bakar reaktor telah memproduksi elemen bakar yang diperlukan di RSG-GAS. Instalasi limbah radioaktif digunakan untuk mengolah dan menyimpan limbah radioaktif yang dihasilkan dari reaktor dan limbah dari laboratorium lain, termasuk dari penghasil limbah di luar BATAN.

Sedangkan instalasi keselamatan reaktor digunakan untuk melakukan simulasi pengoperasian reaktor, termasuk uji coba operasi pada kondisi abnormal (penyimpangan). Dengan pengalaman yang dimiliki oleh para ahli reaktor Indonesia dalam pengoperasian, pemanfaatan dan perawatan RSG-GAS, banyak negara lain yang kemudian mengirimkan sumber daya manusianya untuk belajar dan berlatih tentang teknologi pengoperasian, pemanfaatan dan perawatan reaktor di Serpong. RSG-GAS juga banyak dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk melakukan riset bersama dan penelitian mahasiswa dalam menyelesaikan tugas akhirnya sebagai mahasiswa.

Khususnya dengan PT. Industri Nuklir Indonesia (INUKI), salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), kerjasama dalam pemanfaatan RSG-GAS terus meningkat, yaitu untuk memproduksi radioisotop baik untuk konsumsi domestik maupun diekspor. Sebaliknya, seluruh kebutuhan bahan bakar RSG-GAS juga dipasok oleh PT. INUKI.

Selain untuk memproduksi radioisotop, pancaran radiasi neutron RSG-GAS juga secara efektif digunakan untuk mengiradiasi batuan topas sehingga dihasilkan batuan dengan berbagai macam warna menarik sehingga meningkatkan nilai ekonomi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan batuan asalnya.  Saat ini kapasitas daya yang dimanfaatkan baru sekitar setengahnya (15 MW) sehingga RSG-GAS masih memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan oleh pengguna-pengguna lain. (aan)