Strategi Bisnis 2017 Masih Fokus pada Investasi

Investasi
Ilustrasi (Foto: IST)

Release Insider | INVESTASI tampaknya masih akan menjadi penopang utama dalam strategi bisnis 2017. Hal ini dilihat dari pergerakan pasar modal yang terus tumbuh positif di angka 5.200 atau mengalami kenaikan 15 persen.

Meski pasar modal rentan ’’dihajar’’ isu-isu yang berkembang, namun kebijakan pemerintah dan program Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mampu menopang perekonomian Indonesia. Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida, kebijakan pemerintah, baik yang baru maupun lanjutan yang disertai dengan penyesuaian oleh OJK, yang menjadi triggernya.

’’Ini terlihat dari peningkatan indeks sebesar 11 persen pada Juli dan September 2016, dari 4.800 menjadi 5.400-an. Walaupun pada November 2016 sempat menurun 4 persen karena pengaruh pemilu Amerika, tapi secara keseluruhan tumbuh 15 persen,” tutur Nurhaida dalam sebuah diskusi tentang ekonomi, politik, dan keamanan dalam negeri, di Jakarta, Kamis (15/12).

Nurhaida juga menyatakan, OJK akan berupaya mendukung program pemerintah untuk perbankan, pasar modal dan non-perbankan, serta akan memperhatikan isu ekonomi, politik, dan keamanan yang memengaruhi sektor keuangan.

Hal ini juga dikuatkan oleh Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brodjonegoro. Menurut Bambang, jika Indonesia ingin mencapai target pertumbuhan 5,1 persen hingga 5,3 persen, yang perlu ditingkatkan adalah investasi.

’’Dengan memerhatikan pengaruh sektor global, dari pergerakan kebijakan Amerika dan Tiongkok, serta sektor domestik yang meliputi rendahnya pertumbuhan kredit dan pola penyerapan anggaran, maka harusnya Indonesia melakukan implementasi investasi dan menjaga stabilitas politik keamanan untuk mendukung iklim investasi,” ujarnya.

Baca juga: Potensi Investasi di Perbatasan

Bambang menambahkan beberapa langkah yang bisa mendukung pertumbuhan ekonomi, yaitu penurunan suku bunga pinjaman, inflasi dijaga tetap rendah, perbaikan penyerapan anggaran, dan peningkatan belanja negara.

Mengapa investasi kembali menjadi tumpuan utama untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi tahun depan? Menjawab hal ini, Bambang mengakui bahwa pemerintah tidak memiliki banyak pilihan karena lesunya belanja negara, konsumsi rumah tangga dan pemerintah, serta ekspor-impor.

Ia menerangkan, dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017, belanja negara hanya dialokasikan sebesar Rp2.070,5 triliun. Angka ini turun Rp12,4 triliun dari belanja dalam APBN Perubahan 2016.

Sedangkan nilai ekspor pada Januari-Juli 2016 hanya USD79,08 miliar, turun 12,02 persen dibanding tahun lalu.

’’Memang tak banyak pilihan, tapi saya yakin 12 paket kebijakan ekonomi akan berdampak perbaikan iklim investasi pada tahun depan,” kata Bambang dalam konferensi pers tenang nota keuangan, beberapa waktu lalu.

Sektor yang dibidik

Menurut Bambang, pemerintah telah menetapkan target pertumbuhan beberapa sektor prioritas pada 2017. Sektor komunikasi dan informasi merupakan sektor dengan target pertumbuhan tertinggi, yakni 10,6 persen.

’’Didukung oleh penggunaan telepon, Internet, serta Palapa Ring (proyek pembangunan serat optik) yang akan menjangkau 34 provinsi,” ujarnya menambahkan.

Selain itu, sektor konstruksi pun mendapatkan sorotan dengan target tumbuh 8,1 persen. Target tersebut dinilai realistis karena dana repatriasi akan mulai membanjir pada akhir tahun ini. Sedangkan industri pengolahan diperkirakan tumbuh 5,4 persen.

Sektor selanjutnya adalah pertanian, yang dipatok tumbuh 3,9 persen berkat pencetakan sawah baru dan perbaikan irigasi. Adapun sektor transportasi dan pergudangan ditargetkan tumbuh 7,1 persen sebagai dampak meningkatnya bisnis pengiriman produk e-commerce.

Baca juga: Mengenal Pasar Modal Melalui Galeri Investasi Mobile

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Thomas Lembong mengatakan sudah menyiapkan strategi untuk menggenjot realisasi investasi. Menurutnya, sektor industri smelter (pabrik pengolahan mineral), pengolahan, dan manufaktur (terutama komponen otomotif), disiapkan sebagai sektor investasi utama.

Sementara, Ekonom dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia, Kiki Verico, menilai tepat langkah pemerintah menetapkan investasi sebagai tulang punggung ekonomi. Alasannya, iklim investasi memang sedang membaik.

Yang menjadi indikatornya antara lain, meningkatnya efisiensi perizinan serta menurunnya keluhan soal infrastruktur. BKPM melaporkan, realisasi investasi sepanjang triwulan II 2016 naik 12,3 persen menjadi Rp151,6 triliun. (aan)