Tantangan Besar Gwyneth Paltrow Saat Memulai Bisnis Start-Up

Bisnis Start Up
Gwyneth Paltrow (Foto: IST)

Release Insider | AKTRIS Hollywood sekaligus penulis, Gwyneth Paltrow, ternyata punya cerita tersendiri dalam membangun bisnis start up. Ia menghadapi banyak tantangan besar saat ia memutuskan membuat blog sederhana yang kini berkembang menjadi goop.com, sebuah e-commerce gaya hidup.

Meski terasa berat ia tetap mensyukurinya. Ia memutuskan meninggalkan karirnya karena merasa muak mendapati sejumlah orang yang berlomba-lomba menjadi penjilat.

Kisahnya yang begitu inspiratif mendorong LinkdIn menjadikannya sebagai LinkdIn Influencer. Apa saja tantangan yang dihadapi peraih penghargaan Aktris Terbaik pada ajang Academy Awards ke-71? Apa saja yang dilakukan pemeran Pepper Potts, seorang pemimpin eksekutif yang menggerakkan roda bisnis Stark Industries (dan juga istri dari Tony Stark) dalam film Iron Man, ini dalam menghadapinya?

Berikut artikel yang diterbitkan pada halaman LinkdIn miliknya. Anda juga bisa melihat videonya di link berikut: http://www.slideshare.net/LinkedInPulse/gwyneth-paltrow-influencer-interview-roth-linked-in-goop-retail-e-commerce-entrepreneurship-business.

’’Saya meninggalkan karier di mana banyak orang yang menjadi penjilat, dan saya tidak pernah merasa sebahagia seperti saat ini,’’ tulis Gwyneth dalam artikelnya yang juga diterbitkan pada halaman LinkdIn miliknya.

Ia mengakui, keputusan yang dibuat pada 2008 untuk memulai apa yang kini berwujud menjadi goop.com, merupakan salah satu bentuk dari jiwa liarnya. Mungkin, ketika itu, ia tak terlalu memikirkannya dengan matang.

’’Saat itu, saya punya pekerjaan yang sempurna, dan meskipun saya tidak terlalu mengharapkan akan seperti apa goop nanti. Saya pernah berpikir di dalam hati akan seperti apa nantinya?S aya berusaha membentuknya sedemikian rupa hingga menjadi seperti sekarang,’’ ujarnya mengisahkan.

Dalam beberapa tahun terakhir, lanjutnya, ia menjadi teman yang siap ditelepon setiap saat untuk berbagi instruksi mengenai cara menyiapkan hidangan untuk kencan, apa saja restoran yang baru dan patut dicoba di New York, apa saja yang harus dilihat dalam durasi 48 jam pada perjalanan wisata pertama kita di Paris.

’’Saat itu, segalanya menjadi masuk akal bagi saya setelah menjadi agregator akan apa yang menurut saya adalah informasi yang menarik, seorang kurator bagi teman dan keluarga saya, untuk lalu membuka informasi tersebut kepada khalayak ramai. Reaksi yang timbul pada saat itu cukup luar biasa. Tiba-tiba saya memiliki puluhan ribu pelanggan yang sangat, sangat engaging, dan tampaknya banyak pula jurnalis dan publik pada umumnya yang tercengang dengan alasan di balik keputusan saya untuk melakukan ini,’’ tuturnya.

Ada beberapa halaman artikel di New York Times yang mencoba menelaah keputusan Paltrow, yang kelihatannya merupakan tanggapan disproporsional tidak beralasan. Akan tetapi, Gwyneth Paltrow berharap hal itu dapat menjadi pondasi untuk sesuatu yang besar suatu hari nanti.

Paltrow lantas mengutip ucapan David Bowie yang isinya, ’’Jangan pernah menjadi orang pertama yang melakukan sesuatu, tetapi jadilah yang kedua,” – sebuah nasihat yang tidak ia dengar saat itu.

’’Bukan berarti saya adalah yang pertama memiliki mimpi untuk menciptakan sebuah merek lifestyle. Saya tidak yakin bahwa secara empiris hal ini benar, namun saya diakui sebagai seorang aktris pertama yang menjadi seorang pendiri perusahaan, seorang entrepreneur. Mungkin di ranah digital, saya kira saya yang pertama,’’ urainya.

Dalam artikelnya tersebut, Paltrow juga menulis bawa dirinya masih mendengar teriakan yang bahkan kini masih terdengar gaungnya, dalam beberapa cara berbeda. Salah satu cara yang paling tajam adalah bagaimana dirinya sering diadu satu sama lain dengan beberapa wanita lain yang telah mengikuti jalannya masing-masing di ranah ini yang sama.

’’Dalam sebuah keanehan triangulasi imajiner, yang bahkan kami merasa baik-baik saja satu sama lainnya. Namun media, terus mengikuti perkembangannya dan memperkeruh keadaan ini, sambil berharap bahwa kami benar-benar saling memiliki permasalahan,’’ ucapnya.

Ada banyak macam-macam tantangan yang ia alami selama mengarungi dunia enterpreneur sebagai pendiri perusahaan start-up. Serangkaian permasalahan yang dianggapnya sangat unik karena sebelumnya Paltrow merupakan orang terkenal di dunia yang berbeda.

’’Saya tidak pernah benar-benar memikirkan berbagai hal-hal kecil yang keliru yang dituliskan media. Akan tetapi kini ada konsekuensi yang lebih berat,’’ kata Paltrow.

Ia mencontohkan, ada perbedaan ketika ibu Anda menelepon untuk menanyakan apakah benar bahwa Anda benar-benar sedang mencari cincin untuk pertunangan (tentu saja, tidak) dan bank tempat Anda meminjam modal usaha menelpon untuk berkata ’’Apa yang sebenarnya terjadi?” ketika mereka membaca beberapa berita buruk yang membahas tentang rencana Anda untuk meninggalkan bisnis Anda sendiri.

’’Hal ini membuat saya berada di persimpangan yang terkadang menantang: apa yang harus Anda lakukan terhadap kehidupan kerja lama Anda dan apa perangkat yang terus terbawa jika perangkat tidak relevan, terkadang merusak, dan tidak ada ruang untuk hal tersebut di karier baru Anda.

Ketika saya melakukan kilas balik akan kehidupan profesional saya selama ini; saya menyadari dua hal: saya tidak pernah ’’bermain” mengikuti aturan dan saya selalu mengikuti insting, meskipun terkadang hasil yang saya dapatkan kurang baik,’’ paparnya.

Ketika masih berakting, ia mengaku terkadang merasa kesal pada orang yang salah dan memilih film yang salah pula. Ada pula pilihan – tentang orang-orang dan film – yang baik juga, namun pilihan tersebut tidak selalu datang dengan pertimbangan yang hati-hati atau strategi jangka panjang.

’’Saya selalu bergulat dengan bocah punk rock yang berada dalam diri saya yang ingin mendobrak tradisi dan melakukan segalanya semau diri sendiri. Kadang hal ini membawa saya pada air panas, namun hal tersebut menuntun saya untuk menjadi seperti apa saya sekarang,’’ katanya.

’’Dan seperti apa saya kini? Pada dasarnya, kini saya meninggalkan karier di mana banyak orang yang menjadi penjilat, menjadi seorang yang selalu berada dalam tekanan dari VC (perusahaan Venture Capital) atau jajaran direksi. Dulu saya selalu khawatir mengenai diri sendiri. Kini saya bertanggung jawab tak hanya pada diri saya, namun juga kepada mata pencaharian milik lebih dari 50 orang di perusahaan saya.

Kini saya sering menghabiskan waktu berjam-jam untuk mencari cara bagaimana menjalankan strategi yang telah saya dan tim ciptakan untuk menjadikan goop sebagai merek lifestyle nomor satu secara global (seorang wanita boleh bermimpi, bukan?), sambil di saat bersamaan mencoba untuk terus mendapatkan keuntungan sebelum pendanaan seri B saya habis,’’ tuturnya.

Semuanya ia jalani secara profesional dan bahagia. Hal yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Paling tidak, seperti itulah yang ia ungkapkan.

Pelajaran apa yang ia dapatkan?

’’Bocah punk rock dalam diri saya memegang peranan penting dalam keputusan yang telah saya buat, namun ia perlu untuk dijinakkan dan sangat perlu untuk berpikir sebelum berbicara. Budaya adalah segalanya. Merekrut adalah segalanya. Kepercayaan diri adalah yang paling utama,’’ ujarnya.

Terpenting, lanjut Paltrow, walaupun dunia berpikir ia meninggalkan goop gegara pernyataannyayang menyebut brand tersebut tidak memerlukan dirinya dipelintir oleh media, bisnis sama sekali tidak terpengaruh. Artinya, visi orisinil Paltrow sangatlah mungkin untuk direalisasikan.

’’Meskipun saya mungkin berada di dalam parit setiap saat, goop kini sedang berada di dalam perjalanan menjadi lebih besar dari apa yang pernah saya raih sebelumnya. Sebuah mimpi yang sangat tidak Hollywood sama sekali,’’ tuntasnya. (inx)