Tingkat Kecelakaan Kerja di Indonesia Masih Tinggi

Tingkat Kecelakaan Kerja
Ilustrasi (Foto: IST)

Release Insider | TAK bisa dipungkiri, tingkat kecelakaan kerja di dunia industri di Indonesia masih menunjukkan angka yang cukup tinggi. Jumlahnya mencapai 105.182 kasus dengan korban jiwa 2.375 orang.

Tingginya tingkat kecelakaan kerja di Indonesia tak lepas dari masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran para pelaku industri untuk menerapkan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Hal ini ditambah dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang belum mengikuti standar industri.

Menurut Kepala Seksi Pengawasan Norma Ergonomi Dan Lingkungan Kerja Kementerian Ketenagakerjaan, Muhammad Fertiaz, K3 merupakan upaya dari manajemen perusahaan untuk melindungi kerugian akibat kecelakaan kerja. Upaya ini tertulis pada Pasal 87 UU No. 13 Tahun 2003 yang telah diatur dalam pedoman penerapan Sistem Manajemen K3 (SMK3) melalui PP No. 50 Tahun 2012.

Baca juga: Pembangunan Infrastruktur Butuh Suntikan Dana Swasta

’’Apabila K3 dapat terlaksana dengan baik, maka kasus kecelakaan kerja dapat ditekan dan biaya-biaya yang tidak perlu dapat dihindari. Dengan demikian, tercapai suasana kerja yang aman, nyaman, sehat dan terwujud produktivitas yang lebih tinggi,” kata Muhammad Fertiaz.

Karena itu, dibutuhkan peran aktif dari seluruh pihak untuk menyukseskan K3, kepedulian dari pemerintah, pemerintah daerah, lembaga serta masyarakat industri itu sendiri. Bahkan, Fertiaz menambahkan, saat ini SMK3 yang baik menjadi salah satu syarat utama yang diberikan oleh negara maju dalam perdagangan global, baik ekspor maupun impor.

’’Dalam SMK3 diatur ketentuan bahwa para pelaku industri diwajibkan untuk menyediakan APD yang memenuhi persyaratan teknis, seperti tersertifikasi SNI atau standar internasional sesuai Permenaker No. 8 Tahun 2010,” ujarnya.

Nah, dalam upaya menekan tingkat kecelakaan kerja, perusahaan multinasional dari Amerika Serikat, 3M, menawarkan solusi inovatif yang telah melewati serangkaian penelitian dan uji coba.

’’Salah satunya pada produk-produk Personal Protective Equipment (PPE) yang membantu para pelaku industri menekan jumlah kasus kecelakaan yang dapat menimbulkan kerugian pada perusahaan,” kata Business Director Infrastructure, Construction, Energy and Government Market PT 3M, Audist Subekti.

Baca juga: Pelaku Jasa Konstruksi yang Kompeten

Untuk membantu para pelaku industri memenuhi tanggung jawab K3, 3M selaku pemimpin pasar produk Personal Protective Equipment bagi pekerja di sektor tambang, konstruksi, minyak dan gas, menghadirkan solusi unggulannya untuk perlindungan diri. Inovasi tersebut ikut dipamerkan 3M di ajang Indonesia Infrastructure Week (IIW) 2016 yang berlangsung pada 9-11 November di Jakarta Convention Center.

Solusi inovatif lainnya juga turut dihadirkan untuk menjawab segala kebutuhan pelaku industri, sesuai konsep 3M Smart City dengan menonjolkan beragam solusi pintar yang dapat berintegrasi secara baik sehingga mampu menunjang terciptanya satu kota pintar.

3M Smart City yang dipresentasikan sebagai bandara terbagi menjadi dua area, yaitu area tahap konstruksi dan area bandara yang telah beroperasi. Alat pelindung jatuh (fall protection) yang mendukung K3 seperti produk sabuk pengaman tubuh (harness) dan tali koneksi (lanyard) dihadirkan pada area di tahap konstruksi.

Melengkapi kehadiran solusi alat pelindung jatuh dalam pameran ini, pengunjung juga dapat menguji secara langsung keunggulan produk fall protection melalui alat demo interaktif yang disediakan oleh 3M dari ketinggian ± 3 meter.

Hadir pula solusi perlindungan terhadap aset yaitu 3M™ Dynatel™ Locating and Marking, yang berfungsi untuk melacak dan melindungi aset jalur kabel voltase medium, sehingga pelaku industri tidak perlu lagi membongkar jalur yang ada ketika ingin melakukan perawatan atau perbaikan. Selain itu, ditampilkan pula solusi untuk keamanan bandara yaitu face recognition dan passport reader yang memiliki keakuratan serta sensitivitas tinggi untuk menekan kesalahan pada identifikasi wajah dan identitas.

Seluruh solusi yang ditawarkan oleh 3M telah memenuhi spesifikasi serta standar industri secara global sehingga sangat aman dan nyaman untuk digunakan. Melalui pameran Indonesia Infrastructure Week 2016, 3M berharap dapat semakin dekat dengan seluruh pelaku industri di Indonesia, baik yang sedang membangun maupun menjalankan bisnisnya.

”Selain itu, kami harap 3M dapat menjadi pilihan tepat bagi pelaku industri dalam mengembangkan bisnis serta mengurangi kerugian yang tidak diinginkan,” terang Audist. (ncy)