Toba Kayak Marathon 2017 Dongkrak Popularitas Sumut di Mata Dunia

Toba Kayak Marathon
Ajang Toba Kayak Marathon 2017 diyakini mampu mendongkrak popularitas Sumatera Utara (Sumut) di mata internasional. (Foto: Paddler Sumut for Release Insider)

Release Insider | AJANG Toba Kayak Marathon 2017, menjadi oase baru bagi Sumatera Utara (Sumut). Sebab, melalui kegiatan ini, Sumut siap Go International.

Jargon ”Kayaking on the Top of Super Volcano” diyakini mampu lebih  mengorbitkan Sumut di mata dunia. Terlebih, nama Danau Toba sendiri sudah banyak dikenal para wisatawan, baik domestik maupun asing.

Danau Toba adalah sebuah danau tekto-vulkanik dengan ukuran panjang 100 kilometer dan lebar 30 kilometer. Di tengah danau ini terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara ini, terdapat sebuah pulau vulkanik bernama Pulau Samosir.

Ketua Komunitas Paddler Sumatra Charles Simson Panjaitan, mengatakan bahwa Toba Kayak Marathon 2017 sangat layak dilaksanakan di Danau Toba. Kondisi danau yang relatif tenang, dan keindahan panoramanya, diharapkan dapat mengangkat perekonomian masyarakat.

”Event skala internasional ini akan menghadirkan sekitar 200 kayaker domestik dan mancanegara. Kayak akan menjadi ikon olahraga wisata air di Danau Toba. Tahun ini akan menjadi yang pertama kali dilaksanakan di Indonesia,” kata Charles dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (28/1).

Baca juga: Danau Toba Mampukah Saingi Bali?

Gagasan Paddler Sumatra bersama Komunitas Jurnalis Pariwisata Online menghadirkan International Toba Kayak Marathon 2017, mendapat dukungan besar dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Toba Samosir (Tobasa).

Hal tersebut diungkapkan pada rapat koordinasi yang dipimpin oleh Wakil Bupati yang dihadiri seluruh SKPD terkait serta pihak Kepolisian dan Kodim dan Tim Paddler Sumatra.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tobasa Ultri Simangunsong, memastikan ajang ini masuk dalam calendar of event 2017 Sumatera Utara.

”Toba Kayak Marathon 2017 sudah masuk calendar of event Tobasa tahun ini, dan sudah diteruskan ke Kementerian Pariwisata. Kami berharap Kementerian Pariwisata, Badan Otorita Danau Toba, dan Sektor swasta akan turut membantu dan menyukseskan terlaksananya event ini,” ungkap Ultri.

Kadispenda Kabupaten Tobasa James Silaban, menyatakan, pihaknya akan turut membantu terlaksananya kegiatan ini. Dirinya akan mengajak dan mendorong sektor swasta serta sponsorship berpartisipasi melalui program CSR, untuk membantu peningkatan dan menggeliatkan sektor pariwisata di Tobasa.

Sementara Bupati Toba Samosir, Darwin Siagian, meminta agar instansi-instansi terkait (SKPD daerah) dapat berkomunikasi dan saling mendukung untuk menyukseskan event ini.

”Toba Kayak Marathon harus diangkat menjadi event rutin dan dilaksanakan setiap tahun, serta harus menjadi ikon sport tourism di Danau Toba. Apalagi ajang ini belum ada di Indonesia, serta menjadi aktivitas rekreasi dan olahraga pada setiap kesempatan,” jelasnya.

Dengan kehadiran ajang seperti ini tentunya masyarakat Sumatera Utara khususnya sekitaran Danau Toba akan teringat soal ”solu” armada yang menyerupai kayak. Transportasi ini kerap digunakan untuk pergi ke sekolah dan menangkap ikan saat masih sekolah.

Baca juga: Memaknai Tortor Lebih dari Sekadar Tarian

”Banyak kenangan menggunakan solu, dan nilai-nilai tradisi ini membuat semangat Sumatera Utara bisa tumbuh dengan hadirnya event tersebut. Memori masa kecil itulah yang menyemangati Tobasa mendukung penuh terlaksananya event ini,” ujarnya menambahkan.

Bukti sejarah

Diperkirakan Danau Toba terbentuk saat ledakan sekitar 73.000-75.000 tahun yang lalu dan merupakan letusan supervolcano (gunung berapi super) yang paling baru. Bill Rose dan Craig Chesner dari Michigan Technological University, memperkirakan bahwa jumlah total material pada letusan sekitar 2.800 km3.

Dari jumlah tersebut, sekitar 2.000 km3 dari Ignimbrit yang mengalir di atas tanah, dan kira-kira 800 km3 yang jatuh sebagai abu mengarah ke barat. Aliran piroklastik dari letusan menghancurkan area seluas 20.000 km2, dengan deposito abu setebal 600 m dengan kawah utama.

Kejadian ini menyebabkan kematian massal dan kepunahan pada beberapa spesies makhluk hidup. Menurut beberapa bukti DNA, letusan ini juga menyusutkan jumlah manusia sampai sekitar 60 persen dari jumlah populasi manusia bumi saat itu, yaitu sekitar 60 juta manusia.

Letusan itu juga ikut menyebabkan terjadinya zaman es, walaupun para ahli masih memperdebatkannya. Setelah letusan tersebut, terbentuk kaldera yang kemudian terisi oleh air dan menjadi yang sekarang dikenal sebagai Danau Toba. Tekanan ke atas oleh magma yang belum keluar menyebabkan munculnya Pulau Samosir. (inx)