Transaksi Kopi Indonesia di AS Capai USD35 Juta

Kopi Indonesia

KOPI Indonesia benar-benar luar biasa. Di ajang Specialty Coffee Association of America (SCAA) Expo 2016 di Georgia, Amerika Serikat (AS), berhasil bukukan transaksi hingga USD35 juta atau sekitar Rp460 miliar untuk 392 kontainer.

Nilai tersebut merupakan total transaksi yang diperoleh dari arena pameran, MoU, dan hasil lelang. Diperkirakan, transaksi akan terus bertambah hingga beberapa bulan ke depan. Indonesia melakukan lelang kopi secara langsung di Paviliun Indonesia.

Kegiatan lelang ini menyedot perhatian dari berbagai pelaku industri kopi di AS, seperti importir, roasters, barista, media, dan komunitas specialty coffee lainnya.

”Lelang kopi di SCAA Expo merupakan yang pertama kali kita lakukan dan kita patut bangga atas prestasi yang berhasil dicatatkan di sini,” tutur Direktur Pengembangan Promosi dan Citra, Kementerian Perdagangan, Merry Maryati.

Atase Perdagangan Washington DC, Reza Pahlevi Chairul, menyatakan lelang kopi berhasil membukukan transaksi sebesar USD 11.900 atau berkisar Rp 160 juta.

”Seluruh 17 kopi pilihan yang dilelang habis terjual hanya dalam waktu tiga jam,” tambah Reza.

Menurut Reza, kopi terbaik yang berhasil dijual dalam lelang adalah kopi dari Gunung Puntang, Jawa Barat. Lelang kopi ini dimenangkan oleh Phil Goodlayson dari Corvus Coffee, Denver, dengan harga jual tertinggi USD 55/kg atau berkisar Rp 750.000/kg.

”Ini adalah rekor terbaru lelang kopi Indonesia,” imbuhnya.

Proses lelang berlangsung sangat intens. Acara lelang didahului kegiatan coffee cupping agar para peserta dapat mengetahui cita rasa dan karakteristik masing-masing kopi. Lelang dipandu Rocky Rhodes, seorang auctioneer profesional kopi yang cukup terkenal di kalangan komunitas specialty coffee dunia.

Tujuh belas specialty coffee yang dilelang adalah Gunung Puntang, Mekar Wangi, Manggarai, Malabar Honey, Atu Lintang, Toraja Sapan, Bluemoon Organic, Gayo Organic, Java Cibeber, Kopi Catur Washed, West Java Pasundan Honey, Arabica Toraja, Flores Golewa, Redelong, Preanger Weninggalih, Flores Ende, serta Java Temanggung.

Petani Beri Kuliah
Tak hanya kopi Indonesia yang istimewa, petani kopi Indonesia juga luar biasa. Seorang petani kopi dari Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, bernama Leo Purba memberikan kuliah di arena SCAA Expo.

Leo memberikan kuliah mengenai teknik giling basah dengan judul ”Exploring Semi Wash Process and Farmer’s Challenges in Facing Global Market” kepada hadirin SCAA.

“Pada kuliah ini dibahas bahwa pergerakan third wave coffee memberikan pengaruh yang positif dalam mendorong peningkatan proses perbaikan kualitas pengolahan kopi di Indonesia,” kata Merry Maryati.

”Perkembangan ini pada akhirnya membuat petani kopi Indonesia menjadi lebih kompetitif dalam mengisi permintaan pasar specialty coffee dunia,” imbuhnya.

Topik lain yang menjadi perhatian hadirin adalah mengenai perkembangan peran dan pemberdayaan perempuan dalam industri kopi Indonesia. Topik ini dibahas dalam diskusi pagi International Women’s Coffee Alliance (IWCA) Breakfast yang dihadiri Kepala Pusat Penanganan Isu Strategis Kementerian Perdagangan, Ni Made Ayu Marthini.

Dalam kesempatan tersebut, IWCA menyajikan kopi Arabika Jawa Sunda dari Gunung Papandayan. IWCA sangat mengapresiasi momentum Portrait Country Indonesia. IWCA berharap dapat mengembangkan kerja sama dengan Pemerintah Indonesia dan para pelaku usaha kopi tanah air untuk mengembangkan pemberdayaan wanita dalam rantai pasok dan industri kopi di Indonesia.

Trip ke Indonesia
Pada pameran kali ini, mulai dijajaki kegiatan SCAA Origin Trip ke Indonesia yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Rencana ini telah dibicarakan antara Delegasi RI dengan Peter Gulliano, Senior Director of Symposium SCAA.

SCAA Origin Trip juga akan dijadikan sebagai momentum edukasi dan promosi kopi Indonesia dari para roasters AS dengan petani dan supplier specialty coffee Indonesia. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada bulan Oktober 2016, bertepatan dengan pelaksanaan Trade Expo Indonesia ke-31. (RI)